Mojokerto (beritajatim.com) – Kerajinan rajut asal Jepang, amigurumi mulai digandrungi termasuk di Kota Mojokerto. Peluang ini coba ditangkap oleh salah satu pengrajin amigurumi binaan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag), Ulfa Sundari (38).
“Awalnya saat corona karena dulu kan diwajibkan pakai masker. Orang membutuhkan konektor, dari situ awalnya tapi setelah itu saya lihat boneka rajut kok lucu, unik dan disukai anak-anak. Akhinya saya terus membuat sampai sekarang,” ungkapnya, Sabtu (19/4/2025).
Bergabung dengan pengrajin lainnya di Kota Mojokerto, hasil kerajinannya ia jual dengan cara mengikuti pameran dan dititipkan ke galeri-galeri. Masih kata ibu dua anak ini, ada sekitar 10 pengrajin amigurumi di Kota Mojokerto yang tergabung di Diskopukmperindag Kota Mojokerto.
“Kalau saya, misalnya ada pesanan dalam jumlah banyak biasanya saya lempar ke teman-teman saya jadi di bantu teman-teman. Ada 10 orang khusus rajut tapi biasanya saya dibantu 5 orang. Saya ikut pameran, saya titipan ke galeri dan saya pemasok juga di Pasar Raya Jogja,” katanya.
Menurutnya, saat ini amigurumi yang paling diminati yakni cry baby, kuromi (kelinci) dan gantungan kunci karakter. Dalam satu hari, ia mampu menghasilkan 30 buah amigurumi ukuran kecil. Sementara untuk amigurumi ukuran besar, ia hanya mampu membuat satu buah untuk satu hari.
“Untuk bahan dari benang, macam-macam tapi saya menggunakan benang polycherry karena perawatannya mudah. Untuk anak-anak, saya pakai benang cotton atau katun susu jadi halus. Iya bisa request benangnya. Perawatannya, sabun cair ditotol sama sikat gigi yang halus di bagian yang kotoran,” ujarnya.
Harga bervariatif, mulai Rp8 ribu sampai yang paling besar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Ulfa menambahkan, jika ada yang berminat dengan kerajinan amigurumi bisa ke gubug craft di Jalan Kranggan Gang 3, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. [tin/ian]






