Lombok Tengah (beritajatim.com) – Siapa yang tak kenal dengan Suku Sasak Sade yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Yuk kita melihat dari dekat Suku Sasak Sade.
Hampir setiap hari desa yang berjarak 30 kilometer dari Bandara Internasional Zainudin Abdul Madjid. Ratusan wisatawan manca negara, maupun lokal berkunjung ke desa tersebut.
Konon menurut cerita warga setempat Amak Andre (35), Suku Sasak Sade sudah 15 generasi tinggal di rumah bale tani (rumah adat setempat). Ada puluhan rumah bale tani, dan dihuni 700 kepala keluarga yang sampai saat ini masih mempertahankan adat budayanya.
“Saya ini sudah termasuk generasi ke 15 dari orang tua, kakek dan diatasnya,” ujar Amak Andre, Senin (5/02/2024).
Salah satu tradisi Suku Sasak Sade yang masih dipertahankan saat ini adalah kawin culik. Dimana, pada jejaka harus berani menculik pujaan hatinya untuk mengakhiri masa lajang. Untuk gadisnya diwajibkan bisa menenun. Jika belum bisa tidak diperbolehkan menikah.
Desa wisata tersebut, juga memanjakan para wisatawan. Biasanya setiap ada kunjungannya digelar antraksi ‘Peresean’ atau tari perang yang dilakukan para pria Sasak Sade. Dalam tarian itu, dua pria saling berhadapan membawa rotan serta tameng. Mereka kemudian saling memukul layaknya berperang.
Tarian tersebut, sebenarnya untuk meminta hujan pada saat musik kemarau. Namun, dimodifikasi sebagai tarian menyambut para wisatawan.
Meski sebagai desa wisata, para wisatawan yang datang tidak boleh berbuat seenaknya. Ada aturan yang wajib ditaati, diantaranya
tidak boleh memakai celana pendek, berbuat onar dan menyakiti sesama.
Keunikan Desa Sade Suku Sasak adalah lantai rumah, atau tempat tinggal dilumuri dengan kotoran ternak (sapi). Kendati terbilang tidak lazim. Penduduk Sasak Sade percaya bahwa tempat tinggalnya itu suci.
“Untuk tempat ibadah seperti masjid kami menggunakan kotoran kerbau untuk membersihkan lantai,” tutur Rianto selaku tour guide wisata Desa Sasak.
Desa wisata itu juga menjual kain tenun khas Suku Sasak, pernak-pernik seperti gelang, hiasan dinding, topi serta bubuk kopi tradisional.
Ditengah desa wisata tersebut juga ada pohon cinta. Yakni, pohon nangka yang sudah mati namun disakralkan sebagai pohon titik pertemuan sepasang kekasih baik yang akan memadu cinta maupun yang akan melangsungkan pernikahan.
“Kami berharap pengunjung akan lebih banyak lagi yang akan datang ke Desa Sade sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkap Rianto sambil mengucapkan matur tampi asih (Palah Bedait Malik). Yang artinya terima kasih banyak dan bisa berkunjung kembali. (dny/ian)






