Jember (beritajatim.com) – Mantan bupati Faida mempersiapkan Universitas Bina Sehat Indonesia di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Santri, penghapal Alquran, dan kelompok miskin menjadi prioritas penerima beasiswa.
Saat ini perguruan tinggi tersebut masih bernama Institut Teknologi Pembangunan Surabaya (ITPS). Faida mengakuisisi kampus swasta yang berlokasi di Jalan Balongsari Praja V Nomor 1, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, tersebut untuk dipindahkan ke Jember.
“Saat ini sedang berproses terkait penetapan Yayasan Bina Insan Berfaida untuk alih kelola. Setelah alih kelola penuh oleh Yayasan Bina Insan Berfaida, baru kami bertransformasi menggabungkan ITPS dengan D3 Keperawatan di Jambi,” kata Rektor ITPS Babun Suharto, yang juga mantan rektor Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember, Senin (3/11/2025).
Setelah penggabungan selesai, menurut Babun, ITPS akan beralih status menjadi universitas pada 2026. Sementara waktu kampus ditempatkan satu atap dengan Rumah Sakit Bina Sehat, di Jalan Jayanegara, Kelurahan Kaliwates Kidul, Kecamatan Kaliwates.
“Kalau nanti tren penerimaan mahasiswanya bagus, ada tempat yang representatif di Kecamatan Ajung. Lahannya seluas 15 hektare,” kata Babun.
Saat ini seleksi penerimaan mahasiswa sekaligus penerima beasiswa dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama diikuti 81 orang dan gelombang kedua diikuti 62 orang. Mereka menjalani tes potensi akademik, tes wawancara akademik, dan wawancara beasiswa.
“Kami mencari anak-anak terbaik di Kabupaten Jember, khususnya yang punya keinginan dan semangat belajar tapi tidak mampu secara ekonomi,” kata mantan rektor Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember ini.
Yayasan Bina Sehat memberikan bea siswa untuk para calon mahasiswa tersebut agar bisa mengikuti perkuliahan di ITPS sampai selesai. “Ada beasiswa santri, beasiswa guru ngaji, beasiswa tahfid, beasiswa yatim, dan beasiswa mahasiswa yang terdampak masalah ekonomi,” kata Babun.
Ketua Yayasan Bina Insani Berfaida Abdul Rochim turun tangan langsung menguji calon penerima beasiswa kategori penghapal Alquran. “Tahfidz quran kami prioritaskan mendapat beasiswa, karena dia menjunjung tinggi kitabullah,” katanya.
Mereka bebas memilih program studi yang tersedia. “Kalau diterima, dia diharapkan dia tinggal di asrama untuk bisa mengajari adik-adiknya dan orang-orang lain biar bisa jadi tahfidz. Jadi yang tahfidz bukan hanya dia,” kata Rochim.
Santri juga mendapatkan prioritas beasiswa. “Jadi nanti mereka bisa mempraktikkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum,” kata Rochim.
Prioritas berikutnya adalah guru mengaji dan atau anaknya. “Guru mengaji selama ini tidak mencari duit, tapi mencari pahala Allah. Karena dia sudah berjuang seperti itu, anaknya kami kasih fasilitas atau dia sendiri untuk bisa mendapat beasiswa,” kata Rochim.
Anak yatim dan anak dari keluarga yang terdampak pemutusan hubungan kerja juga diprioritaskan menerima beasiswa. “Juga anak yang berprestasi dan aktif berorganisasi,” kata Rochim.
“Beasiswanya ini diusahakan sampai selesai. Mudah-mudahan Allah tetap memberikan rezeki kepada kami biar bisa memberikan solusi yang baik untuk mahasiswa-mahasiswa yang terdampak seperti ini,” kata Rochim.
Ada delapan program studi sarjana (S1) yang tersedia, yakni Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknik Lingkungan, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
“Namun, kebanyakan calon mahasiswa memilih Program Studi Pendidikan Agama Islam, Teknik Lingkungan, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Rencananya pada 9 November 2025, orientasi dimulai selama satu semester,” kata Babun. [wir]






