Jember (beritajatim.com) – Faida memeluk dua perempuan di hadapannya, di halaman belakang kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (30/8/2024) dini hari.
“Terima kasih dukungannya. Saya sudah berusaha. Satu dua hari ini saya akan berkumpul dengan teman-teman,” kata Faida kepada dua perempuan yang terlihat mewek, menangis, dalam pelukannya.
Faida menjabat tangan To Supai, tokoh Forum Keluarga Madura (Forkam), yang menghampirinya. “Saporana (maafkan saya),” katanya.
Faida adalah bupati Jember 2016-2021. Setelah gagal mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan kepala daerah Jember pada 2020, dia kembali mencoba peruntungannya dalam pilkada tahun ini.
Bersama kandidat petahana Hendy Siswanto dan politisi Gerindra Muhammad Fawait, dia memburu rekomendasi delapan partai yang memiliki kursi di DPRD Jember. Partai Persatuan Pembangunan sempat menerbitkan surat tugas untuknya pada medio Agustus 2024.
Namun surat tugas ini tidak menjamin terbitnya rekomendasi. Dukungan resmi pencalonan dari PPP justru diberikan kepada pasangan Muhammad Fawait dan Djoko Susanto. Tak hanya PPP, duet tersebut dicalonkan 14 partai politik, tujuh di antaranya adalah partai pemilik kursi di DPRD Jember.
“Modelnya sekarang kan koalisi besar lawan bumbung (kotak) kosong. Memang seperti itu kan peta (politik) di Indonesia. Sayangnya putusan MK (Mahkamah Konstitusi) terlalu mepet,” kata Faida.
Faida menyebut dinamika tarik-menarik kepentingan dukungan pencalonan di antara delapan partai politik pemilik kursi di DPRD Jember cukup kuat. “Dengan putusan MK, ada tujuh partai yang bisa mengusung calon sendiri. Sayangnya, saya tidak bisa memanfaatkan waktu yang pendek setelah putusan MK tersebut,” katanya.
Informasi yang berseliweran di media sosial memunculkan nama PPP dan Partai Nasional Demokrat yang bakal balik arah mendukung Faida setelah sempat mendukung Fawait. Namun Faida menolak mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut. “Karena tidak sampai mendaftar, saya tidak sampaikan,” katanya.
Yang jelas, Menurut Faida, tidak ada hambatan di level dewan pimpinan pusat (DPP) dua partai itu. “Tidak ada hambatan. Waktunya saja (yang mepet dengan tenggat pendaftaran). Andaikan bisa online diselesaikan lebih dulu, besok fisik aslinya disusulkan, ya selesai persoalan,” katanya.
Faida sebenarnya sudah menghubungi Komisi Pemilihan Umum Jember untuk menanyakan kemungkinan penyerahan berkas fail lunak dan fail keras secara terpisah. “Tapi aturannya, minta (berkas dokumen) aslinya. Apa boleh buat,” katanya.
Kendati tahu bakal gagal mendaftarkan diri, Faida tetap meluncur ke kantor KPU Jember, Kamis (29/8/2024) jelang tengah malam. “Saya memenuhi harapan semua orang (yang menginginkan): ‘Ibu harus datang ke KPU’,” katanya.
“Saya sudah berkonsultasi per telepon, dan saya sudah punya jawabannya. Namun telepon yang tidak dilihat kawan-kawan ini kan tidak bisa meyakinkan mereka, bahwa memang ini sudah dikomunikasikan. Jadi saya datang ke sini untuk bertatap muka, walau sudah selesai berkonsultasi dengan KPU, dan supaya teman-teman bisa lebih mendapatkan penjelasan yang memastikan mereka,” kata Faida.
Apa yang menyebabkan Faida bersikeras melanjutkan proses pencalonan kendati menghadapi tembok koalisi besar partai politik? “Kalau manusia sudah ambil sikap, ya harus berusaha semaksimal mungkin sampai titik paling akhir. Namanya kesungguh-sungguhan. Saya merespons harapan masyarakat dengan kesungguh-sungguhan,” katanya.
Faida siap berbesar hati dengan takdir Tuhan. “Tapi kalau belum berakhir, lalu kita memutuskan, itu namanya putus asa. Beda,” katanya.
Apalagi, dukungan masyarakat terhadap Faida dinilai cukup besar. “Walaupun koalisi besar menyebabkan sempitnya pilihan calon bagi masyarakat, tapi masyarakat masih memberikan apresiasi dan dukungan luar biasa. Ini terbukti dengan survei-survei terakhir, saya paling atas,” katanya.
“Tanpa saya menyombongkan diri, masyarakat tahu bahwa ini ada tembok besar. Tapi masyarakat tetap menginginkan dan bagi saya ini adalah dinamika politik,” kata Faida. [wir]






