Mojokerto (beritajatim.com) – Ketersediaan air bersih masih menjadi masalah nyata di sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto, terutama di kawasan perbukitan. Di sana, warga harus bersabar hanya untuk mendapatkan air layak konsumsi.
Sebenarnya Mojokerto dikenal sebagai kawasan asri dengan beragam wisata kenamaannya. Namun di balik itu, sebagian wilayah masih memerlukan pasokan air bersih untuk dikonsumsi atau dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagong, warga Dusun Petung, Desa Sumberjati, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto mengungkapkan bahwa ia dan masyarakat setempat cukup kesulitan mendapatkan air bersih, baik itu saat musim kemarau maupun musim hujan.
“Kalau musim kemarau seperti saat ini airnya lumayan bersih, kalau penghujan sangat keruh. Saat musim hujan, kami harus menunggu airnya jernih dulu baru bisa dipakai,” kata Bagong kepada beritajatim.com, Rabu (31/7/2024).
Bagong menyebut, sumber air di wilayahnya sejatinya cukup melimpah. Selain dari sungai desa setempat, setiap warga juga memiliki sumur di rumahnya. Hanya saja, jarang dari sumber-sumber itu yang mampu menghasilkan air bersih.
“Di sini memang ada sungai tapi airnya kering dan keruh, apalagi saat musim penghujan, airnya kecoklatan. Sumur juga ada di semua rumah, tapi kering, terlalu dalam sumbernya,” sebut pria berusia 49 tahun itu.
Melihat kondisi itu, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya berinisiatif untuk berkontribusi menyelesaikan persoalan tersebut. Lewat program KKN internasional, para mahasiswa, dosen dan warga bergotong-royong membangun filter air.
Dosen Arsitektur UK Petra Surabaya Roni Anggoro menjelaskan, ada dua buah tandon filter air yang dikerjakan oleh mahasiswa dan warga. Alat tersebut diperbarui dengan menggunakan metode filtrasi baru agar lebih efektif.
Selain itu, peserta KKN internasional juga memberikan edukasi kepada warga setempat tentang cara membuat alat filter air. Tak hanya bagi orang dewasa, tapi juga kepada anak-anak tingkat sekolah dasar di dusun setempat.
“Anak-anak mau disadarkan tentang bahwa ternyata (konsumsi air) butuh filtering. Jadi, mereka juga bisa membuat filter mini. Jadi yang diajarkan ke ibu-bapak juga diajarkan ke anak-anak,” ungkap Roni.
Roni menambahkan, dalam program filtrasi di Dusun Petung ini, mahasiswa bekerja keras mengangkut bebatuan dan kerikil untuk membangun kembali tandon air di hulu. Meski tak nampak bentuknya, tapi dampaknya cukup signifikan.
“Di Petung ini punya masalah air bersih. Sebenarnya di atas itu ada filter air besar tapi sejak tahun 2016 tidak pernah dibersihkan dan diganti. Akhirnya kami perbaiki dan airnya sudah jernih dan sudah dialirkan ke Dusun Petung,” katanya.
Program pengelolaan air bersih ini pun mendapatkan respon positif dari warga setempat. Bagong menilai jika upaya UK Petra Surabaya dan mahasiswa asing dalam mengelola air menjadi layak konsumsi ini sangat membantu masyarakat.
“Untuk program filter air ini bagus, cukup membantu masyarakat di sini. Kebutuhan filtrasi di Dusun Petung penting sekali, karena airnya bisa dibuat untuk masak, minum, ataupun mandi,” ungkap Bagong.
Sebagai informasi, para mahasiswa lintas negara mengikuti KKN internasional atau Community Outreach Program (COP). Ada 117 mahasiswa dari 5 negara yang terlibat, antara lain Indonesia, Korea, Jepang, Belanda, dan Taiwan.
Kegiatan ini berlangsung pada 14 Juli hingga 7 Agustus 2024. Mereka disebar di Dusun Sumberjati dan Dusun Petung, Desa Sumberjati. Kemudian Dusun Kesiman dan Dusun Rejosari di Desa Rejosari. Lalu di Desa Jembul. [ipl/but]






