Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, harus bertahan hidup dengan mengandalkan sisa air hujan yang ditampung di rumah masing-masing akibat kemarau panjang. Setidaknya ada 375 Kepala Keluarga (KK) Dusun Duyung terdampak air bersih.
Selama hampir empat bulan terakhir, warga yang tinggal di lereng Gunung Penanggungan itu mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Tidak adanya sumber air memadai membuat masyarakat terpaksa menghemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Mahfud (43) mengatakan, air hujan yang ditampung warga melalui tandon maupun kolam penampungan kini mulai menipis. “Air yang ditampung itu hanya bisa digunakan satu bulan saja dan tidak mencukupi,” ungkapnya, Sabtu (19/7/2026).
Menurutnya, warga sebenarnya mendapat bantuan aliran air melalui pipa dari desa yang bersumber dari wilayah Kecamatan Trawas. Namun karena jumlah warga yang membutuhkan cukup banyak, distribusi dilakukan secara bergilir.
“Ada pipa bantuan dari desa atau yang mengaliri dari Trawas itu menunggu giliran. Ada 12 RT jadi dibagi tiap hari atau bergilir. Karena keterbatasan pasokan air, warga harus mencari sumber air lain hingga keluar wilayah Kecamatan Ngoro, maupun Kecamatan Trawas,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), dan minum, warga mengambil air ke Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Mahfud menyebut upaya mencari sumber air baru juga telah dilakukan. Bahkan pengeboran pernah dilakukan sebanyak dua kali, tetapi belum menemukan sumber air yang bisa dimanfaatkan.
“Ambil airnya jauh sekitar tujuh kilometer di area Sumber Tetek. Ambilnya pakai sepeda motor bagi yang punya sepeda. Kalau tidak punya sepeda sewa pikap, nanti ongkosnya dibagi bersama. Pernah dicoba untuk mengebor dan mencari sumber mata air sebanyak dua kali tetapi gagal,” jelasnya.
Bahkan, lanjutnya, sudah mendatangkan para ahli untuk mengebor namun juga gagal. Warga kini berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah agar segera mendapat bantuan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
“Kalau kemarau hanya mengandalkan air hujan saja. Tahun ini sudah hampir empat bulan kekeringan di sini itu belum dapat bantuan atau belum datang,” pungkasnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, Desa Kunjorowesi menjadi salah satu wilayah terdampak kekeringan dengan jumlah 1.499 KK atau 3.053 jiwa. Selain itu, Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro dan Desa Duyung, Kecamatan Trawas juga mengalami dampak kekeringan akibat kemarau panjang. [tin/aje]






