Ringkasan Berita:
- Kekeringan akibat kemarau panjang membuat 2.776 kepala keluarga atau 6.703 jiwa di tiga desa lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
- Warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, mengaku persoalan krisis air bersih terjadi setiap tahun, namun kemarau panjang tahun ini membuat kondisi semakin berat.
- BPBD Kabupaten Mojokerto akan menyalurkan bantuan air bersih mulai 22 Juli hingga 5 September 2026 untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Mojokerto (beritajatim.com) – Kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir menyebabkan ribuan warga di kawasan lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, mengalami krisis air bersih.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, sebanyak 2.776 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan dengan jumlah mencapai 6.703 jiwa.
Warga terdampak tersebar di tiga desa, yakni Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, sebanyak 1.499 KK atau 3.053 jiwa. Kemudian Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, sebanyak 774 KK atau 2.086 jiwa, serta Desa Duyung, Kecamatan Trawas, sebanyak 503 KK atau 1.564 jiwa.
Salah satu warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Mahfud (43), menyampaikan bahwa kesulitan mendapatkan air bersih merupakan persoalan yang selalu muncul setiap musim kemarau. Namun, kondisi tahun ini semakin sulit karena hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama.
“Sudah hampir empat bulan sejak April. Lingkungan sini memang kalau masalah air bersih tiap tahun tidak ada. Di sini ada sekitar 85 kepala keluarga,” ungkapnya, Minggu (19/7/2026).
Mahfud menjelaskan, warga selama ini hanya mengandalkan bantuan aliran air dari pipa desa yang sumbernya berasal dari wilayah Kecamatan Trawas. Karena keterbatasan debit air, distribusi harus dilakukan secara bergiliran antarwilayah.
Di Dusun Kandangan terdapat sekitar 12 Rukun Tetangga (RT) yang harus berbagi jadwal penerimaan air. Kondisi tersebut membuat warga harus menunggu giliran hingga beberapa hari sebelum mendapatkan pasokan air bersih.
“Kebetulan sini RT 12 jadi menunggu 12 hari dan hanya bisa dipakai dua hari atau paling lama satu minggu. Selain itu, kami hanya mengandalkan air hujan dan bantuan, kalau kemarau hanya mengandalkan air hujan saja. Kami berharap kepada BPBD atau dinas-dinas terkait yang ingin membantu air bersih,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim membenarkan adanya permohonan bantuan air bersih dari tiga desa yang terdampak kekeringan.
Tiga wilayah tersebut yakni Desa Duyung, Kecamatan Trawas, serta Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro.
“Total warga terdampak di tiga desa tersebut diperkirakan mencapai sekitar 2.776 KK. Sebanyak 2.766 KK tersebut terdiri dari Desa Kunjorowesi dengan dua dusun yakni Dusun Kandangan 693 KK dan Dusun Kunjorowesi 806 KK, di Desa Manduro Manggung Gajah terdiri dari Dusun Buluresik 247 KK dan Dusun Manggung Gajah 256 KK,” jelasnya.
Untuk Desa Duyung, Kecamatan Trawas, warga terdampak berada di Dusun Duyung sebanyak 375 KK dan Dusun Bantal sebanyak 339 KK.
BPBD Kabupaten Mojokerto memastikan distribusi bantuan air bersih akan mulai dilakukan pada 22 Juli hingga 5 September 2026. Setiap hari, tangki air bersih akan dikirimkan ke tiga desa terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan warga selama masa kekeringan berlangsung. [tin/suf]






