Malang (beritajatim.com) – Para pakar dari Universitas Brawijaya (UB) menegaskan pentingnya transformasi menuju pertanian hijau dan kemandirian energi sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Dalam forum Kuliah Bestari #2 yang digelar di Malang, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyoroti peran krusial kaum intelektual sebagai lokomotif perubahan.
Meski jumlah profesor di Indonesia masih sangat terbatas, yakni hanya 0,003 persen dari total populasi, kontribusi mereka dianggap sebagai sumber inovasi bagi kebijakan negara.
“Profesor harus hadir di ruang publik. Tidak hanya berbagi cerita, tetapi mewarnai informasi di media sosial dengan data yang valid untuk melawan disinformasi,” kata Prof. Widodo, Kamis (26/2/2026).
Persoalan pangan menjadi isu sentral yang dibahas oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., M.S. Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan yang berdaulat bukan sekadar angka produksi, melainkan mencakup empat pilar: ketersediaan, akses, penyerapan, dan status gizi.
Meskipun Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, produktivitas padi nasional dinilai masih tertinggal dari Tiongkok. “Tantangan keberlanjutan kita masih lemah, terutama di Indonesia bagian timur, di mana tingkat kerawanan pangan masih berada di angka 10 persen,” ungkap Prof. Nuhfil.
Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan pengendalian konversi lahan pertanian dan memperkuat enam jalur strategi, mulai dari stabilisasi harga hingga pengembangan agroindustri berbasis teknologi.
Kedaulatan Energi: Melepas Ketergantungan Impor BBM
Di sektor energi, Prof. Ir. I Nyoman Gede Wardana, M.Eng., Ph.D., memberikan peringatan keras mengenai kerentanan ekonomi nasional akibat tingginya impor bahan bakar minyak (BBM). Saat ini, impor BBM Indonesia mencapai 62 persen, yang membuat ekonomi sangat sensitif terhadap gejolak global.
“Ketahanan energi BBM sama dengan ketahanan ekonomi Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, ekonomi kita akan sangat rentan,” jelasnya. Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong percepatan transisi menuju kendaraan listrik, pengembangan hidrogen melalui teknologi water splitting, serta optimalisasi bioetanol dan biodiesel dari biomassa.
Isu lingkungan juga menjadi sorotan tajam. Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S., IPU., membedah akar masalah banjir di perkotaan, khususnya di Kota Malang. Menurutnya, alih fungsi lahan dan pelanggaran garis sempadan sungai menjadi penyebab utama.
Sebagai solusi nyata, Universitas Brawijaya telah menerapkan Sistem Drainase Berbasis Sumur Injeksi (SDBSI). Sejak 2018, UB telah membangun sekitar 60 sumur injeksi sebagai model pengendalian genangan air yang efektif bagi wilayah perkotaan.
Di sisi lain, aspek kesehatan tidak luput dari pembahasan. Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D., mengingatkan adanya tren peningkatan penyakit jantung pada usia muda di Indonesia. Ia menekankan bahwa pembangunan kesehatan harus terintegrasi dengan kebijakan pangan dan lingkungan. “Pola hidup sehat adalah kunci. Kualitas SDM nasional tidak akan optimal tanpa kesehatan jantung dan metabolisme yang baik,” tuturnya mengakhiri. (dan/kun)






