Pacitan (beritajatim.com) – Suasana damai di Dusun Ledok Kulon, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan mendadak berubah mencekam. Ini terjadi setelah Eko Armand Arifianto alias Slamet diduga mengamuk dan membacok tujuh orang warga yang tak lain adalah tetangganya sendiri.
Peristiwa tragis itu menyisakan trauma mendalam, terutama bagi Paryanto. Rumahnya menjadi lokasi utama kejadian, dan tiga anggota keluarganya yaitu ibunya, istri, dan anak menjadi korban pembacokan.
“Kami sudah tidak bisa menerima Slamet kembali tinggal di lingkungan sini. Warga lain juga merasa tidak nyaman dan menolak jika dia dipulangkan,” tegas Paryanto saat ditemui di RSUD dr. Darsono Pacitan, Kamis (29/5/2025).
Menurutnya, kondisi psikis warga masih terguncang. Ia khawatir jika Slamet kembali ke lingkungan tersebut, bisa memicu gangguan psikologis warga lainnya.
“Bisa jadi orang sehat ikut stres karena waswas. Kalau dia kambuh lagi, bisa saja kejadian serupa terulang,” ujarnya.
Paryanto menambahkan, selama ini Slamet tinggal bersama neneknya. Sementara istrinya telah memilih berpisah dan kembali ke Ponorogo.
“Istrinya baru kemarin menjenguknya. Kakeknya sudah meninggal beberapa bulan lalu. Kalau dulu kambuh, biasanya cuma marah-marah sama keluarga,” ungkapnya.
Kepala Desa Sidomulyo, Agus Sugiyanto, membenarkan bahwa warga saat ini belum bisa menerima jika Slamet dipulangkan dari rehabilitasi.
“Masyarakat masih dalam kondisi trauma. Kami sedang berupaya mencari solusi terbaik. Kalau memang tidak memungkinkan untuk kembali ke lingkungan semula, akan kita upayakan alternatif lain,” jelasnya. (tri/ian)






