Malang (beritajatim.com) – Kolaborasi antara mahasiswa dan pakar lintas kampus membawa angin segar bagi warga Desa Kemasan Tani, Kecamatan Gondang.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (Unair) Kelompok 7 menggandeng pakar lingkungan dari Universitas Brawijaya (UB) untuk menyulap limbah organik jadi produk bernilai ekonomi tinggi, Senin (12/1/2026).
Dalam program kerja ini, mahasiswa Unair menghadirkan Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN. Eng., dosen Fakultas Pertanian UB sekaligus pemegang paten produk turunan Eco-Enzyme, untuk melatih warga desa memanfaatkan sampah rumah tangga.

Dalam paparannya, Dr. Rita Parmawati menekankan pendekatan pragmatis agar warga mau memilah sampah. Menurutnya, edukasi lingkungan di desa tidak bisa hanya berbicara soal emisi karbon atau lapisan ozon, melainkan harus menyentuh sisi ekonomi keluarga.
“Jangan bicara lingkungan dulu, tapi bicara dapur dan dompet. Artinya, bagaimana kita membuat dapur bersih dan dompet tidak keluar biaya tambahan,” ujar Rita di hadapan warga.
Rita memperkenalkan empat produk turunan Eco-Enzyme yang telah dipatenkannya: cairan pembersih lantai (karbol), pembersih udara, pupuk cair, dan sabun serbaguna (3-in-1). Produk terakhir ini menjadi primadona karena dinilai paling solutif bagi ibu rumah tangga.

“Masyarakat sangat tertarik dengan sabun terimuan (3-in-1) ini. Sabunnya bisa dipakai mandi, keramas, bahkan mencuci pakaian. Harapannya, ibu-ibu tidak perlu lagi membeli sampo atau deterjen, cukup pakai turunan Eco-Enzyme. Ini prinsip ekonomi sirkular yang nyata,” jelas pakar dari UB tersebut.
Ia juga menargetkan pelatihan penghitungan Break-Even Point (BEP) agar produk ini kelak bisa dijual dan menjadi komoditas unggulan Desa Kemasan Tani.
Meski terlihat sederhana, pembuatan Eco-Enzyme memiliki aturan ketat. Rita mengingatkan bahwa kesalahan pemilihan bahan baku bisa berakibat fatal, seperti gagal fermentasi atau aroma yang tidak sedap.
“Tidak semua sampah organik bisa dipakai. Syaratnya harus segar, tidak busuk. Buah berlemak seperti alpukat atau berkulit keras seperti durian itu dilarang. Kulit bawang merah dan putih yang mengandung antioksidan tinggi juga tidak boleh,” tegasnya.
Strategi pemilahan sampah yang diajarkan pun dibuat sesederhana mungkin, cukup pisahkan sampah basah (sisa dapur) dan kering (selain sisa dapur), agar warga tidak merasa terbebani.
Ketua Tim KKN BBK Unair, Dewa Pranata Putra Purnama, menjelaskan bahwa Desa Kemasan Tani yang terdiri dari Dusun Kemasan dan Dusun Ketanen memiliki potensi besar namun menghadapi tantangan kesehatan hewan ternak.
“Sesuai survei dan arahan Ibu Kepala Desa, akhir-akhir ini desa mengalami wabah pada ternak, terutama sapi. Maka tujuan utama kami adalah aspek kesehatan dan digitalisasi,” ungkap Dewa.
Untuk itu, tim KKN Unair tidak hanya berhenti di Eco-Enzyme. Mereka juga akan mendatangkan dokter hewan dan dosen pembimbing dari Kedokteran Hewan UNAIR untuk menangani isu kesehatan ternak. Di sisi ekonomi, mahasiswa membantu digitalisasi UMKM lokal melalui pembuatan akun WhatsApp Business dan penerapan pembayaran digital (QRIS).
“Harapan kami program ini sustainable (berkelanjutan). Jangan sampai saat kami pulang, programnya kembali ke nol. Kami ingin meninggalkan pondasi agar warga semakin maju mengikuti arus modernisasi,” tambah mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.
Dewa juga mengapresiasi sambutan hangat warga Desa Kemasan Tani yang telah menganggap mahasiswa seperti keluarga sendiri. “Kami di sini tidak hanya memberi ilmu, tapi juga belajar nilai moral dan kerukunan ‘tanpa pagar’ dari warga desa,” pungkasnya.
Sebagai informasi kegiatan di Desa ini digerakkan oleh kolaborasi mahasiswa lintas fakultas dari Unair dengan Dosen Pembimbing Lapangan Usma Nur Dian Rosyidah S.S., M.A. Selain Dewa Pranata Putra Purnama (Ketua – FH, Ilmu Hukum), tim ini beranggotakan Afrinka Rifda Zahira (FK, Kebidanan), Ardevia Calista Salsabiela (FKG, Kedokteran Gigi).
Kemudian anggota lainnya, Amelia Ayu Pichasari (FH, Ilmu Hukum), Kim Kriste (FEB, Akuntansi), Gabriella Febrina Wanata Purba (FEB, Manajemen), Nanditha Azizah Latib (FKH, Kedokteran Hewan), Adiel Laksono (FKH, Kedokteran Hewan), Glennesha Putri Anandaprasa (FTMM, Teknologi Sains Data). (dan/ted)






