Sidoarjo (beritajatim.com) – Di balik puing-puing dan debu reruntuhan gedung tiga lantai serta musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, tersimpan kisah tentang keberanian dan keikhlasan.
Selama sembilan hari penuh, Tim SAR gabungan berjuang tanpa henti, menembus tumpukan beton demi menyelamatkan setiap nyawa yang tertimbun.
Mereka datang bukan hanya dengan seragam oranye dan alat sederhana, tapi juga dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Salah satu anggota tim, Cupes (32 tahun) dari BPBD Provinsi Jawa Timur, mengisahkan bagaimana mereka bekerja di tengah kondisi yang nyaris mustahil.
“Di dalam itu kondisinya sulit, masuk tidak bisa, terus bangunan rapuh, tidak stabil. Beton-beton itu mudah rontok,” tutur Cupes pelan, mengenang momen genting saat mereka berusaha menembus reruntuhan.
Kesulitan itu tak membuat mereka menyerah. Dengan cermat, tim mencari cara agar tetap bisa menjangkau korban.
Mereka menggali parit kecil menyerupai terowongan tanah, hanya cukup untuk dilewati tubuh seorang remaja.
“Kita secara manual pakai besi kecil, menggaruk tanah, lalu dibuang ke luar. Tidak bisa pakai alat besar karena takut menimbulkan getaran,” jelasnya.
Udara pengap, minim cahaya, dan aroma menyengat jenazah menjadi teman mereka sepanjang waktu.
“Kadang Safety Officer (SO) minta kita segera keluar kalau ada tanda-tanda reruntuhan tambahan. Risiko nyawa selalu ada,” tambah Cupes.
Perjuangan mereka berbuah hasil pada hari keempat pencarian, Kamis (2/10/2025). Melalui terowongan buatan itu, sebanyak 13 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Meski fisik lelah dan ruang kerja hanya selebar 70 sentimeter, semangat kemanusiaan tak pernah pudar. “Kita harus terus merangkak, merayap, kadang tiduran. Tapi saat dengar suara korban masih hidup, semua rasa sakit hilang,” katanya.
Kisah lain datang dari Saifullah (22), mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya yang ikut bergabung sebagai relawan.
Ia mengaku bekerja dalam shift tiga jam di bawah puing-puing, dengan posisi tengkurap berjam-jam lamanya. “Di dalam reruntuhan bisa berjam-jam, posisi tengkurap terus, sampai waktu bergantian tiba,” ujarnya.
Meski masih berstatus mahasiswa aktif, Saifullah tetap membagi waktu antara kuliah dan misi kemanusiaan. “Habis ini masuk kuliah lagi. Kami terpanggil. Selain di sini, saya juga sering ikut evakuasi di gunung,” ucapnya dengan mata yang tampak letih, namun penuh keyakinan.
Setelah perjuangan panjang, operasi evakuasi resmi ditutup pada hari ke-9, Selasa (7/10/2025). Berdasarkan data Basarnas (9/10/2025), total 171 korban ditemukan, terdiri dari 104 orang selamat dan 67 meninggal dunia, termasuk delapan potongan tubuh.
Tragedi memilukan itu terjadi pada Senin sore, 29 September 2025, ketika ratusan santri tengah melaksanakan salat asar berjemaah di gedung asrama putra yang masih dalam tahap pembangunan. Runtuhnya bangunan itu menyisakan duka mendalam — namun juga menghadirkan kisah ketangguhan para penyelamat yang menjadikan kemanusiaan sebagai panggilan hati.
Di balik abu dan batu kapur yang berserakan, kisah Tim SAR Al Khoziny menjadi bukti nyata, bahwa di setiap bencana, selalu ada secercah harapan yang lahir dari keberanian manusia untuk tidak menyerah. (rma/ted)






