Malang (beritajatim.com) – Awalnya, tak ada yang menyangka bahwa penerbit bernama Jagat Litera yang dibangun dari nol kini telah menerbitkan hampir 300 judul buku. Jagat Litera, didirikan oleh Sutrisno Gustiraja Alfarizi atau Gusti Trisno, telah berkembang jauh sejak pertama kali beroperasi pada 24 Mei 2021.
“Hingga awal Maret 2025, kami telah menerbitkan 262 buku dengan ISBN, serta 25 buku dengan QRSBN dan QRCBN. Beberapa judul masih dalam proses penerbitan, jadi totalnya sudah hampir 300 judul,” ungkap Gusti Trisno saat diwawancarai beritajatim.com, Selasa (11/3/2025).
Jagat Litera tidak hanya menerbitkan buku akademik seperti bahan ajar dan referensi kuliah, tetapi juga karya sastra, termasuk kumpulan puisi, cerpen, dan novel.
Memulai penerbitan buku bukan hal yang mudah, apalagi bagi seorang penulis yang masih merintis. Awalnya, Gusti Trisno mengaku hanya ingin menulis dan berbagi ilmu. Namun, semakin dalam ia terjun ke dunia kepenulisan, semakin ia sadar bahwa banyak penulis berbakat kesulitan menerbitkan buku mereka.
“Motivasi saya mendirikan Jagat Litera adalah ingin menerbitkan buku-buku berkualitas yang ramah bagi berbagai kalangan pembaca. Kami ingin menjadi bagian dari kemajuan industri perbukuan nasional,” jelas Gusti yang juga menjadi Founder dan Direktur penerbit Jagat Litera.
Penerbit ini resmi diperkenalkan ke publik pada 7 Juli 2021 dengan tagline ‘Menerbitkan Inspirasi’ Filosofi di balik namanya pun mendalam. Jagat diambil dari bahasa Sansekerta dari kata Jagaddhita dalam bahasa Sanskerta yang memiliki makna yang dalam dan bermakna luas.
Secara harfiah, jagaddhita terdiri dari dua kata, yaitu jagat yang berarti dunia dan dhita yang berarti keberhasilan atau kebahagiaan. Selain itu, dalam bahasa Jawa, Jagat juga memiliki makna dunia atau bumi.
“Kami mengartikan bahwa Jagat adalah dunia/bumi disertai isinya. Sementara itu, kata litera diambil dari literacy dalam bahasa Inggris. Sebagaimana kita tahu bahwa literasi itu tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi lebih dari itu,” ujar Gusti.
Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengajak masyarakat luas untuk berpikir lebih kritis. Terutama dengan paradigma baru yang juga diterapkan di sekolah, seperti literasi media, literasi finansial, dan sebagainya.
“Pemilihan Jagat dari Timur dan Litera dari Barat, kami ibaratkan seperti Yin dan Yang, dua kekuatan berlawanan tetapi saling melengkapi. Kami ingin menjadi pusat atau semesta dari buku-buku yang menginspirasi,” tambah Gusti.
Dari ratusan buku yang telah diterbitkan, ada dua judul yang paling berkesan bagi Gusti Trisno. Pertama buku berjudul “Menulis Prosa dan Puisi, Membangun Jiwa Wirausaha”, yang ditulis bersama Prof. Roekhan, M.Pd., Achmad Fatchur Rizqi, dan disunting oleh Prof. Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.
“Buku ini mengajarkan cara menulis prosa dan puisi dengan cara yang praktis dan mudah diikuti. Bahkan, ada bagian yang mengajarkan bagaimana menulis bisa menjadi sumber penghasilan,” katanya.
Buku favorit kedua berjudul Sastra Indonesia Angkatan Inteligensia Artifisial karya Royyan Julian. Buku ini memenangkan Anugerah Sutasoma 2023 dari Balai Bahasa Jawa Timur.
“Buku ini unik karena membahas fenomena baru dalam dunia sastra, yaitu keterlibatan kecerdasan buatan dalam proses kreatif. Ini adalah bukti bahwa sastra terus berkembang mengikuti zaman,” ujarnya.
Menjalankan penerbit independen di tengah dominasi penerbit besar tentu bukan perkara mudah. Namun, Jagat Litera tetap bertahan dengan berbagai strategi, seperti memberikan diskon menarik, beriklan di Instagram, dan mengadakan kelas menulis yang bersifat edukatif sekaligus promotif.
“Kami juga berburu naskah di berbagai platform untuk menemukan penulis-penulis berbakat. Selain itu, kami aktif memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lebih banyak pembaca,” jelasnya.
Selain menerbitkan buku, Jagat Litera juga ingin membangun ekosistem literasi melalui Sekolah Menulis Jagat (SEMEJA). Program ini mengadakan kelas menulis daring dan luring dengan pemateri dari akademisi serta praktisi kepenulisan.

“Sejak November 2024, kami rutin mengadakan SEMEJA DARING. Pada 15-16 Maret 2025 nanti, kami akan menyelenggarakan Pondok Narasi dan Pondok Puisi untuk guru dan siswa, dengan tujuan membangun lingkungan sekolah yang lebih kaya literasi,” ujar penulis yang telah menghasilkan sejumlah buku prosa itu.
Bahkan, dari kegiatan SEMEJA DARING ini, sudah lahir beberapa buku antologi. Ke depan, Jagat Litera berencana mengadakan pelatihan menulis yang berfokus pada karya tunggal.
Dengan pencapaian yang telah diraih, Gusti Trisno tidak ingin berhenti di sini. Ia memiliki visi besar untuk membawa Jagat Litera ke level yang lebih tinggi.
“Dalam jangka menengah, kami ingin membangun platform digital yang menjadi wadah bagi pembaca dan penulis. Sementara dalam jangka panjang, kami ingin memiliki toko buku indie yang bisa menjadi pusat literasi,” ungkap Gusti yang saat ini sedang menjalani S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang.
Saat ini, kantor Jagat Litera berada di Perumahan The Village G-10, Kel. Mulyorejo, Kec. Sukun, Kota Malang, dengan 6 karyawan tetap dan 6 pekerja lepas.
Menurut pria lulusan S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang ini, industri perbukuan di Indonesia menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Banyak orang lebih memilih mengonsumsi konten digital dibanding membaca buku fisik.
“Kami sadar bahwa persaingan semakin ketat, tetapi setiap penerbit pasti punya pasarnya sendiri. Kami tetap optimis dan berkomitmen untuk terus menerbitkan inspirasi melalui buku-buku yang berkualitas,” tegasnya.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Jagat Litera membuktikan bahwa dari nol, mereka kini telah menerbitkan hampir 300 buku. Angka itu tentu akan terus bertambah seiring dengan banyaknya penulis yang menerbitkan di Jagat Litera. (dan/ian)






