Malang (beritajatim.com) – Kafe Ekologi yang terletak di Jl Merjosari gang II Kota Malang tak hanya menghadirkan suasana nongkrong yang nyaman. Beberapa kali Ekologie juga turut membahas perihal keilmuan. Termasuk dengan menghadirkan tokoh untuk membahas kajian intelektual.
Terbaru, Ekologie Malang bekerjasama dengan Sibiren dan sejumlah komunitas menghadirkan Dr Fahruddin Faiz, tokoh yang sudah melalang buana dalam ranah filsafat dan teologi. Acara yang berlangsung pada Sabtu (28/1/2023) itu diawali dengan kirab budaya yang menampilkan tarian daerah, pembacaan puisi, dan monolog.
Manajemen Ekologi, Faiz Rifky Ak menjelaskan bahwa acara ini diadakan dalam rangka mengedukasi publik. Ekologie, kata dia, memang rutin mengadakan event diskusi.
“Mulai tahun lalu kebetulan tidak diizinkan mengadakan event musik. Akhirnya kami rutin mengadakan diskusi. Kita membuka ruang seluas-luasnya kepada teman mahasiswa, untuk berkegiatan yang produktif. Ketika teman-teman ada ide, gagasan, bisa datang untuk berdiskusi,” ujarnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kafe”]
Ekologie menjadi salah satu usaha bidang usaha FnB di Kota Malang yang juga ingin memberikan support kepada milenial. “Kami memberikan support kepada milenial untuk menggelar kegiatan yang menunjang kapasitas teman-teman mahasiswa,” tutupnya.
Diskusi ini, sudah sejak dua bulan lalu digagas Awaluddin, Koordinator Umum Sibiren. Diskusi ini sebagai malam puncak dari festival siberin (Festsib). Dia berpandangan bahwa kafe Ekologie Malang dapat menjadi tempat orang orang inklusif yang terbuka dengan pandangan.
“Acara kita pada malam ini, bukan semata dengan sibiren saja. Penampil yang dibayar tadi tidak dibayar Acara ini bagian dari bagian kolaborasi. Ini kerjasama kita semua, jika Malang kekurangan tradisi intelektual. Jika Malang kehabisan tokoh. Sebenarnya dengan suara-suara dari pinggiran, dan suara-suara kecil. Tokoh-tokoh itu bisa kita datangkan ke sini,” ujarnya.

Pada acara inti, Dr Fahruddin Faiz memaparkan tentang maksud dari filsafat. Menurutnya dalam sejarah manusia penggunaan intelektual, intelegensi, bidangnya disebut filsafat. Hal itu dimulai dengan tradisi berpikir.
“Apa ada orang yang tidak berpikir? Tidak ada orang yang tidak berfilsafat Orang tidak setuju dengan pemikiran filosof, tidak masalah. Itu tetap berfilsafat karena berpikir. Orang tidak punya uang saja juga berpikir. Jadi tidak ada yang tidak berpikir, kita semua berpikir,” jelas penulis buku ‘Filosof Juga Manusia’ itu.
Bedanya dengan filsuf yang terkenal, kata Fahruddin, mereka serius berpikir, meluas, dan mendalam. Sementara masyarakat biasa yang bukan filsuf berpikirnya suka-suka saja, tidak mendalam atau dangkal. Pikirannya tidak reflektif atau tidak pernah diuji.
“Kunci paling dasar dari filsafat adalah mitos dan logos. Mitos itu pikiran orang yang tidak diuji, ada apa saja langsung diterima. Mitos kita percaya begitu saja, yakini begitu saja, tanpa dikritisi. Filsafat hadir, untuk menggeser mitos menjadi logos,” sambungnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”diskusi”]
Dulu zaman socrates Filsafat hadir untuk menggempur cara berpikir orang Yunani. Orang Yunani itu dulunya memandang berbagai hal yang ada di alam ada dewanya. Misalnya saja angin, hujan, air ada dewanya. “Filsafat apa yang dilakukan tidak jauh dari bertanya, mengkritisi, merefleksi. Sikap dari filsafat menguntungkan peradaban. Dari yang serba percaya menjadi kritis. Dari pasif menjadi aktif,” tandasnya.
Dia memandang filsafat telah mengetaskan tahayul kurafatnya Yunani. Itu terbukti peradaban Yunani yang memuncak, dengan mengandalkan logos manusia.

“Jangan-jangan mental kita mental mitos. Ada apa apa di telan begitu saja. Hoax itu kan terjadi akibat mental yang masih mitos. Pokoknya unik dan aneh dipercaya begitu saja. Ayo kita geser dari mitos ke logos. Segala sesuatu bekerja dengan akal sehatnya,” jelas pria yang juga menulis buku ‘Sebelum Filsafat’ tersebut.
Filsafat itu hadir mengajak umat manusia bergeser dari mitos ke logos. Filsafat melampaui kebenaran, dari kebenaran menuju ke kebijaksanaan. Kata filsafat berakar dari kata philia dan sophia atau cinta kebijaksanaan.
“Imannya filsafat itu kebijaksanaan. Philia itu dalam bahasa Yunani berarti jenis cinta , cinta yang arahnya persahabatan. Komitmen kebenaran filsafat melampaui kepentingan ego. Cinta yang lebih tulus cintai yang wisdom untuk kebijaksanaan,” pungkas alumni S-3 Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2014 itu. [dan/suf]






