Surabaya (beritajatim.com)–Memimpin revolusi Islam Iran pada Februari 1979, usia Ayatollah Ruhollah Khomeini saat itu menginjak 77 tahun. Di sepanjang hidupnya, dia menjadi satu-satunya tokoh Iran yang istiqomah melawan Shah Iran, baik di era Reza Shah maupun Reza Pahlavi.
Dalam proses perjuangannya, telah banyak pendekatan (approach) dan taktik politik, ekonomi, sosial, dan militer yang dipakai Shah Reza Pahlavi dan kaki tangannya untuk menekuk dan menaklukkan perlawanan Khomeini. Mulai bujukan jabatan, uang, hingga intimidasi dan represi berupa hukuman penjara. Semua itu tak meluluhkan hati, perasaan, dan jalan pikiran perjuangan Khomeini untuk menggusur kekaisaran Pahlavi dari Bumi Iran.
“Suatu hari Shah Iran mengunjungi pemimpin-pemimpin agama di Kota Qom, kota pusat pengembangan keagamaan Islam Syiah yang di Iran. Semua orang berdiri memberikan hormat kepada Shah Iran, kecuali Khomeini yang tetap duduk dengan antengnya di kursinya. Shah Iran, melalui SAVAK (Dinas Polisi Rahasia Iran yang dikenal kejam dan bengis) telah menawarkan USD200.000 kepada Khomeini asal dia mau pergi dari Iran. Dengan tenang Khomeini menjawab: “Bilang ke dia, saya beri dia dua kali lipat dari itu asal dia yang pergi dari negeri ini,” demikian salah satu bunyi kutipan dari buku Revolusi Iran yang ditulis Dr Nasir Tamara (2017).
Itulah Khomeini dengan iwa, pemikiran, sikap, dan karakter mental politiknya saat berjuang di jalur politik di era Shah Iran. Dia kukuh. Mentalnya kuat.
Tak gampang mempersuasi dan membujuk Khomeini. Apalagi yang melakukan itu semua kaki tangan dan orang-orang kepercayaan Shah Iran. Terlalu banyak policy dan perilaku politik Shah Iran dan kaki tangan mereka yang dipandang Khomeini melukai, menyakiti, dan membodohi rakyat Iran. Selain itu, nilai-nilai Islam, khususnya aliran Syiah, yang dilanggar dan tak diindahkan Shah Iran, keluarga besar, dan kaki tangan mereka.
Khomeini adalah oposan nomor wahid Shah Iran. Dia konsisten di pilihan jalan politik itu hingga menggapai puncaknya pada revolusi Islam Iran, 1 Februari 1979.
“Imam Khomeini adalah satu-satunya tokoh Iran yang tak pernah mundur dalam menentang Shah Iran. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk menumbangkan monarki ini dari bumi Iran. Khomeini juga terkenal jujur, bersih, ulet, dan tak seorangpun meragukan pribadinya,” tulis Nasir Tamara.
Ayah Dibunuh Dinasti Qajar, Anak Tertua Dihabisi SAVAK
Lahir 1902 di Kota Khomeyn, Iran, jalan hidup pemimpin besar revolusi Islam Iran ini sangat terjal, berliku, dan diwarnai banyak gejolak. Pada usia 9 bulan, ayahnya dibunuh karena masalah politik. Sang ayah menentang Dinasti Qajar yang menguasai lanskap politik Iran saat itu.
Di usia 9 bulan itu, Khomeini diasuh kakaknya yang tertua, Morteza, yang sampai revolusi Islam meletus di tahun 1979 tetap tinggal di Qom: sebuah kota suci kaum Syi’ah terpenting kedua di Iran, terletak 120-156 kilometer di barat daya Teheran.
Sebagai pusat pendidikan Syi’ah terbesar di dunia dengan Hauziyah Ilmiyah, kota ini dikenal sebagai “Kota Sejuta Ulama” dan tempat makam Fatimah al-Ma’sumah. Qom juga berperan penting sebagai tempat kelahiran Revolusi Islam 1979.
Kota ini pusat studi Islam yang besar, tempat berdirinya banyak madrasah/seminari Islam, dan pusat ziarah utama bagi penganut Syi’ah. Kota Qom tumbuh pesat sejak era Sassaniyah dan jadi pusat perlawanan terhadap Shah Reza Pahlavi pada 1960-an, yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Berusia 20 tahun (tahun 1922), Khomeini menyelesaikan pendidikan di bidang filsafat dan hukum Islam di Kota Qom. Dua tahun sebelumnya, tahun 1920, dia menikah dan dikaruniai tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki.
Anak lelaki tertuanya, Mosthafa, meninggal dunia pada tahun 1977 di Kota Najaf, Irak, ketika hidup dalam pengasingan kota tersebut bersama Khomeini. Konon, yang membunuh anak tertua Khomeini di Najaf Irak adalah agen SAVAK: Sâzemân-e Ettelâ’ât va Amniat-e Kešvar, dinas polisi rahasia dan intelijen Iran yang sangat ditakuti selama pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi (1957–1979).
SAVAK didirikan dengan bantuan AS dan Israel. Lembaga ini terkenal akan kekejamannya dalam menyiksa dan membunuh ribuan tahanan politik untuk mempertahankan kekuasaan Shah Iran sebelum digulingkan dalam revolusi Islam 1979.
Fungsi utama SAVAK antara lain sebagai lembaga keamanan domestik, kontra-intelijen, dan pengawasan ketat terhadap pembangkang, sering menggunakan metode penyiksaan kejam (listrik, cambuk, dan air mendidih). SAVAK memiliki 9 direktorat, mencakup intelijen luar negeri, keamanan dalam negeri, dan arsip. Adalah Jenderal Nematollah Nassiri, kepala intelijen yang menjabat sebagai kepala SAVAK selama era tersebut dan dieksekusi setelah Revolusi 1979..
Pada 1978, rezim Saddam Husain yang berkuasa di Irak mengeluarkan policy persona non grata kepada Khomeini. Tokoh Islam Syiah Iran, oposan nomor wahid Shah Reza Pahlavi ini, diminta meninggalkan Irak.
Khomeini kemudian mengungsi di Prancis, tepatnya di Kota Neauplhe-le-Chateau sejak 1978 dan pulang kampung ke Iran pada 31 Januari 1979 tengah malam dengan pesawat Boeing 747 Air France untuk memimpin revolusi Islam.
“Satu hal yang menakjubkan bagi orang yang untuk pertama kali melihat Khomeini adalah kesederhanaan cara hidupnya, baik di rumahnya di Qom maupun selama di pengasingan di Kota Neauplhe-le-Chateau Prancis. Di Kota Neauplhe-le-Chateau Prancis ukuran rumahnya kecil dan tak banyak perabotannya. Semua orang duduk bersila di lantai. Di situ ia tinggal bersama istrinya dan seorang anak laki-lakinya bernama Ahmad Khomeini yang berusia sekitar 35 tahun,” jelas Nasir Tamara.
Saat dalam pengasingan di Prancis, usia Khomeini telah menginjak 76 tahun. Ia kategori pemimpin agama dan politik yang berusia lanjut. Meski begitu, fighting spiritnya tetap tinggi dan menggelora ketika berbicara tentang negara, rakyat, dan masa depan Iran, dan Islam Syiah di negara tersebut.
“Khomeini masih tangkas. Jalannya tegak, pandangannya tajam menusuk seolah hendak menyelidiki teman bicaranya. Jarang ia tertawa di muka publik, hanya bila bersama keluarganya di rumah. Konon Khomeini sering bercanda dengan cucunya. Rutinitas yang dilakoni di pengasingan di Prancis adalah pukul dua pagi, biasanya Khomeini sudah bangun, lalu cepat berdoa dan sholat sampai pukul 5 pagi. Setelah itu kehidupan sehari-hari berlangsung baginya,” tambah Nasir Tamara.
Sebagai pribadi yang menyandang gelar Ayatollah, karena penguasaan ilmu yang sangat tinggi, terutama ilmu agama, dalam kultur masyarakat Syiah Iran, demi alasan keamanan, Khomeini mesti dijaga ketat. Hal itu dilakukan sejak Khomeini berada di Qom Iran, Najaf Irak, dan Neauplhe-le-Chateau Prancis.
Selama setahun lebih di Neauplhe-le-Chateau Prancis, Khomeini didampingi sejumlah pembantu utamanya. Ada tiga orang intelektual dan aktivis Islam Iran merapat dan terus mendampingi Khomeini: Dr Ibrahin Yazdi, Shadeq Quthbzadeh, dan Abolhasan Bani Shadr. Abolhasan kemudian jadi presiden Iran pertama setelah revolusi Islam Februari 1979.
Kaya dengan khasanah berbagai ilmu sosial dan agama, terutama ilmu filsafat dan fiqih termasuk fiqih politik (fiqh siyasah), di sepanjang hidupnya Khomeini bukan sekadar pemimpin agama dan politik. Dia sekaligus intelektual Islam yang produktif. Sebanyak 11 buku ditulisnya.
Bukunya yang pertama, Kasyfol-Asrar, berisi kritikan tajam terhadap Reza Shah (Ayahanda Shah Iran Reza Pahlavi) yang memerintah Iran secara sewenang-wenang, menghancurkan kebudayaan Islam, menjadi budak negara asing, dan kejam luar biasa. “Sebanyak 11 buku karangan Khomeini itu terbit dalam bahasa Arab dan Persia (Iran),” kata Nasir Tamara.
“Pertentangannya dengan Shah Reza Pahlavi sama dengan pertentangannya dengan Reza Shah. Di bulan Juni 1963, ketika tentara Shah Iran membunuh ribuan demonstran dalam satu hari, Ayatollah Khomeini dipenjara untuk beberapa bulan. Setelah itu ia berada dalam tahanan rumah selama 8 bulan dan baru di bulan November 1964 diizinkan kembali ke Kota Qom. Setelah kejadian itu, Khomeini bukannya takut. Ia makin berani. Terus mengucapkan pidato-pidato yang menentang Shah Iran dan Parlemen Iran yang dianggapnya telah menjadi kaki tangan Amerika Serikat,” tulis Nasir Tamara.
Khomeini dan Bung Karno
Yang penting juga dicatat adalah Khomeini itu seorang nasionalis yang amat antikolonialisme dan antiimperialisme. Dalam konteks ini, banyak pemikiran Khomeini yang paralel dan sejalan dengan pandangan Ir Soekarno (Bung Karno), Presiden pertama RI.
“Di tahun enam puluhan, dalam sebuah tulisannya, Khomeini memuji Soekarno sebagai seorang tokoh antikolonialisme,” kata Nasir Tamara dalam bukunya.
Seperti diketahui, tak ada pihak yang menafikan dan meragukan kegandrungan Bung Karno pada pemikiran antikolonialisme dan antiimperialisme. Pemikiran Bung Karno tersebut berakar pada prinsip Nasionalisme, Marhaenisme, dan Sosio-Nasionalisme yang menolak eksploitasi manusia dan bangsa (exploite de l’homme par l’homme).
Bung Karno konsisten memperjuangkan kemerdekaan total, menerapkan strategi nonkooperasi, dan memimpin perlawanan terhadap neokolonialisme melalui Gerakan Non-Blok, dengan menekankan bahwa kolonialisme harus dijebol secara radikal.

Pemikiran Bung Karno menolak prinsip bekerja sama atau tawar-menawar dengan penjajah Belanda. Baginya, penjajahan harus diakhiri dengan perjuangan radikal dan revolusioner, bukan melalui asosiasi politik.
Sang Proklamator ini mengembangkan nasionalisme yang membebaskan, mempersatukan, dan mengutamakan kemanusiaan (internasionalisme). Ia menekankan pentingnya bangsa terjajah untuk bersatu melawan kaum penjajah.
Kekaguman Khomeini pada pemikiran, ide, dan langkah politik praktis Bung Karno dalam melawan kolonialisme dan imperialisme baru jadi inspirasi dan dorongan bagi dirinya dalam melakukan pembebasan rakyat Iran dari tiran dan rezim desptik Shah Reza Pahlavi. Khomeini menghargai warga asing, tapi dia tak suka rezim Shah Iran memberikan privilege politik, ekonomi, hukum, dan sosial kepada warga Amerika Serikat di Iran.
“Dalam salah satu pidatonya yang termashur di tahun 1964, Khomeini mengatakan mengapa Parlemen Iran memberikan jaminan dan konsesi kepada perwira dan serdadu Amerika Serikat, sehingga mereka bebas dari pengadilan Iran seandainya mereka melakukan kejahatan kepada orang Iran, termasuk di dalamnya membunuh pemimpin negara dan agama. Mengapa Shah Iran meminjam uang sebanyak USD200 juta, padahal harus membayar bunga sebanyak kurang lebih USD100 juta dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun. Mengapa kedaulatan Iran diobral,” tanya Khomeini mengutip isi buku Nasir Tamara tentang Revolusi Iran.
Pada tahun 1964, Khomeini diasingkan ke Najaf Irak. Rezim Shah Iran menilai tak akan ada masalah lagi baginya di Iran. Shah Iran merasa bakal memerintah Iran seumur hidup. Dalam sebuah buku yang diterbitkan di tahun 1976, dua setengah tahun sebelum revolusi Islam Febrauri 1979, Shah Reza Pahlavi menulis, “Sekarang tidak ada lagi masalah dengan pemimpin-pemimpin agama di Iran. Khomeini? Tak ada orang yang mengikutinya, kecuali pada teroris.”
Perilaku tiran dan despotik rezim politik Shah Iran plus manuver politik perjuangan Khomeini yang konsisten, dan pantang mundur melawan Shah Iran, lalu faktor pencerahan politik warga dan keberanian luar biasa warga Iran menolak rezim Shah, telah melahirkan revolusi Islam Febrauri 1979.
Dalam tempo sekitar 2,5 tahun setelah pernyataan Shah Reza Pahlavi tentang Khomeini, justru tokoh Islam kharismatik Iran ini datang kembali ke negaranya untuk memimpin revolusi dan menghempaskan rezim politik Shah Iran untuk selama-lamanya. Shah Reza Pahlavi ngacir ke Amerika Serikat 15 hari sebelum revolusi Islam Iran meletus 1 Februari 1979. [bersambung]
Ainur Rohim,
Direktur Utama beritajatim.com.






