Surabaya (beritajatim.com) – Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengenakan bea masuk tinggi untuk beberapa negara, salah satunya, China atau Tiongkok. Namun bagi Indonesia bisa menjadi peluang pasar baru industri sepatu tanah air khususnya Jawa Timur.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Dewan Pengurusan Daerah Asosiasi Persepatuan Indonesia Jawa Timur (DPD Aprisindo Jatim), Rani Riniwati, yang mendorong pengusaha sepatu Jatim untuk memanfaatkan momentum “perang” AS dengan China ini.
Menurut Rani, yang juga baru dilantik sebagai Ketua DPD Aprisindo Jatim pada 20 Januari 2025 lalu, bisa memberi peluang pelaku usaha sepatu Indonesia untuk masuk ke pasar ekspor ke AS.
“Karena itu kami juga telah siapkan untuk menghadirkan konsultan WRAP (Worlwide Responsible Accredited Production-red), yaitu Neni Triani beserta timnya untuk memberikan bimbingan dan konsultasi gratis. Bagaimana teknik memasuki pasar ekspor AS untuk pelaku industri sepatu di Jatim,” kata Rani, dalam rilisnya, Senin (10/2/2025).
Dalam kegiatan yang mengundang para anggota Aprisindo itu, juga akan dihadiri langsung oleh Senior Vice President WRAP Stakeholder Enggagement Mr Mark Jaeger.
“Ini adalah kesempatan bagi kami di Aprisindo Jatim untuk kembali semangat meningkatkan kinerja selain produk juga pasar ekspor,” jelas Rani, yang saat pelantikan memberikan sambutan dengan tema “Kesatuan adalah kekuatan, ketika ada kerjasama dan kolaborasi, hal-hal luar biasa dapat dicapai” tersebut.
Kegiatan dengan konsultan WRAP digelar hotel Fave Surabaya, dan gratis untuk anggota Aprisindo yang hadir.
Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) Aprisindo, Eddy Widjanarko, saat pelantikan Rani sebagai Ketua bersama jajaran pengurus DPD Aprisindo Jatim periode 2025 – 2028, memberi pesan bila visi Aprisindo, adalah menjadi organisasi yang mempertahankan eksistensi dan membangun kembali citra industri alas kaki serta meningkatkan daya saing di pasar global.
“Untuk mencapai visi di masa depan Aprisindo berkonsolidasi dengan semua stake holders dan pendukung industri alas kaki, meningkatkan citra industri alas kaki sebagai industri penggerak perekonomian padat karya, sumber devisa Negara, mengembangkan kemampuan Sumber Daya Manusia dalam memasuki pasar global,” ungkap Eddy.
Salah satu strateginya adalah bersama-sama memperkuat dan menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin tidak menentu. Aprisindo juga perlu mengambil peran dalam perkembangan ekonomi dunia.
“Aprisindo tugasnya bukan hanya menyatukan semua yang ada, tetapi harus memberikan kekompakan, kebersamaan dalam memberikan pelayanan kepada para anggota, khususnya dalam memfasilitasi pelayanan perijinan, akses pasar dalam negeri dan pasar luar negeri,” tambahnya.
Disamping itu dirinya juga meminta semua anggota harus berpikir bahwa kedepan industri sepatu ini menjadi salah satu soko guru ekonomi padat karya dan buruh yang bagus dan poduktif. “Terutama di Jatim,” ujar Eddy.
Selanjutnya dalam rangka mendukung program kerja tersebut pengurus baru Aprisindo Jatim, ada tim inti yang membantu ketua dalam memecahkan masalah-masalah hukum terkait kunjungan Aparat Penegak Hukum (kepolisian), Imigrasi dan lain lain. Aprisindo harus membuat satu upaya terobosan, agar supaya tetap kompak, satu bahasa, satu pemahaman yang baik sehingga semua apa yang terjadi kita segera carikan solusi yang terbaik dan tercepat.
Winyoto Gunawan, Ketua DPD Aprisindo Jatim, yang digantikan Rani, menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama selama dua periode dia memimpin Aprisindo Jatim.
“Bila masih terdapat hal hal yang belum berhasil dan terselesaikan maka mohon dapat diselesaikan oleh pengurus Aprisindo Jatim periode yang baru dan kami terima kasih atas kerjasamanya selama ini,” tandas Winyoto. [rea]






