Ringkasan Berita:
- Krisis air bersih di Kabupaten Mojokerto meluas ke tiga desa di Kecamatan Ngoro dan Trawas akibat musim kemarau.
- Desa Manduro Manggung Gajah menjadi wilayah terbaru yang mengajukan bantuan dropping air bersih dengan 774 kepala keluarga terdampak.
- BPBD Mojokerto menyiapkan distribusi air bersih setelah terbit SK Bupati serta mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
- Masyarakat diminta segera melaporkan wilayah yang mulai mengalami kekeringan karena dampak musim kemarau diperkirakan masih akan meluas.
Mojokerto (beritajatim.com) – Musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto. Jika sebelumnya hanya dua desa yang mengalami kekeringan, kini jumlah wilayah terdampak bertambah menjadi tiga desa yang tersebar di Kecamatan Ngoro dan Kecamatan Trawas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat hingga awal Juli 2026, Desa Kunjorowesi di Kecamatan Ngoro, Desa Duyung di Kecamatan Trawas, serta Desa Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro telah mengajukan permohonan bantuan pasokan air bersih.
Desa Manduro Manggung Gajah menjadi wilayah terbaru yang terdampak kekeringan. Krisis air bersih terjadi di dua dusun, yakni Dusun Buluresik dan Dusun Gajah Mungkur.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim, mengatakan sedikitnya 774 kepala keluarga terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih di wilayah tersebut.
“Kini ada tiga desa yang terdampak. Di Desa Manduro Manggung Gajah, kekeringan melanda dua dusun, yakni Dusun Buluresik dan Dusun Gajah Mungkur. Sedikitnya 774 kepala keluarga terdampak,” ungkap Abdul Khakim, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, berkurangnya ketersediaan air di kawasan kaki Gunung Penanggungan diduga menjadi salah satu penyebab munculnya krisis air bersih di sejumlah desa tersebut.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Mojokerto telah menyiapkan penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Distribusi akan dilakukan setelah terbit Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto sebagai dasar pelaksanaan penanganan darurat.
Selain mengandalkan pasokan air dari pemerintah daerah, BPBD juga akan mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna memperkuat penanganan di wilayah yang mengalami kekeringan.
“Kami juga akan mengajukan pengiriman bantuan air bersih ke Pemprov Jatim. Selain memenuhi kebutuhan warga di Desa Manduro Manggung Gajah, bantuan air bersih juga akan terus disalurkan ke Desa Kunjorowesi dan Desa Duyung yang lebih dahulu mengalami kekeringan,” jelasnya.
BPBD Kabupaten Mojokerto mengimbau pemerintah desa maupun masyarakat agar segera melaporkan apabila terdapat wilayah lain yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Dengan musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, jumlah desa terdampak kekeringan berpotensi terus bertambah apabila curah hujan belum kembali turun. Pemerintah daerah pun terus memantau perkembangan kondisi di lapangan agar distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. [tin/beq]






