Sumenep (beritajatim.com) – Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa yang tergabung dalam PMII ke DPRD setempat berbuntut penyegelan gedung wakil rakyat itu.
Penyegelan itu ditandai dengan membentangkan spanduk putih panjang, melintang di pintu masuk kantor dewan. Spanduk itu bertuliskan ‘Kantor DPRD Dijual’.
Penyegelan itu merupakan bentuk kekecewaan para mahasiswa kepada anggota DPRD yang dinilai tidak serius memperjuangkan aspirasi rakyat. Mahasiswa meminta agar para wakil rakyat bersedia menandatangani deklarasi bersama menolak kenaikan harga BBM.
Sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Sumenep sebenarnya telah menyempatkan diri keluar dan menemui para pengunjuk rasa. Namun para pengunjuk rasa tidak mau apabila hanya sebagian yang hadir.
“Kami tidak mau bertemu dengan perwakilan anggota DPRD. Kami mau semua anggota dan pimpinan dewan keluar, supaya tahu komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, menolak kenaikan harga BBM,” kata salah satu orator, Abdul Mahmud.
[berita-terkait number=”4″ tag=”demo-harga-bbm-naik”]
Namun setelah ditunggu beberapa lama, tidak ada lagi anggota dewan yang keluar menemui mahasiswa. Para mahasiswa pun akhirnya menyegel kantor DPRD.
“Kantor DPRD ini sudah dijual karena wakil rakyat tidak becus memperjuangkan aspirasi masyarakat. Nanti uang hasil penjualan kantor DPRD ini akan dibagikan pada rakyat miskin yang menjerit karena kenaikan harga BBM,” tandasnya.

Usai menyegel kantor DPRD, mahasiswa pun bergerak ke Pemkab Sumenep untuk menyuarakan hal yang sama. (tem/ted)






