RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj menjamin jemaah haji bebas dari cemas kelaparan melalui pembagian paket makanan siap santap Nusantara.
- Skema konsumsi dipisah menjadi 15 porsi di area Armuzna dan 6 porsi pengapit di kamar hotel Makkah.
- Pendistribusian logistik siap konsumsi ke hotel-hotel dijadwalkan rampung mulai Sabtu, 23 Mei 2026.
- Langkah darurat katering ini mengamankan fisik 175.682 jemaah yang bersiap wukuf di tengah suhu 44 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia dipastikan tidak perlu cemas kelaparan selama menjalani fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menyusul garansi penuh pasokan katering berwujud makanan siap santap (ready to eat) dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI.
Langkah mitigasi ini menjadi jawaban mutlak pemerintah untuk menghapus kekhawatiran logistik jemaah sekaligus memastikan ketahanan fisik mereka tetap terjaga secara optimal.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kepastian ketersediaan pangan yang praktis ini menjadi angin segar bagi 175.682 jemaah reguler yang kini telah berkumpul memadati Kota Makkah.
Di tengah kepungan cuaca panas ekstrem yang menyentuh angka menyengat 44 derajat Celsius, jaminan anti-kelaparan ini sangat melegakan hati jemaah, termasuk rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya (SUB).
Hingga hari ke-28 operasional per Senin (18/5/2026), pergerakan gelombang kedatangan mencatat total 179.463 jemaah reguler dan 1.851 petugas dari 464 kloter telah diberangkatkan dari tanah air.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 72.904 jemaah gelombang kedua mendarat selamat melalui Jeddah, ditambah kedatangan 12.180 jemaah haji khusus yang siap bergerak menuju hari wukuf pada Selasa, 26 Mei mendatang.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan bahwa kesiapan pangan dirancang dengan akurasi tinggi agar jemaah tidak perlu lagi memikirkan kendala antrean makanan atau keterlambatan dapur lapangan.
“Alhamdulillah, hingga hari ke-28 operasional haji, layanan bagi jemaah terus berjalan baik. Fokus kami saat ini adalah memperkuat kesiapan menjelang Armuzna, termasuk layanan konsumsi yang menjadi bagian penting dalam menjaga stamina dan kesehatan jemaah,” ujar Maria di Jakarta.
Guna mengeliminasi potensi jemaah telat makan di tengah jutaan manusia yang memadati kawasan inti Masyair, Kemenhaj memisahkan skema distribusi secara ketat.
Khusus selama jemaah berada di pos Armuzna sejak 8 Dzulhijjah siang hingga 13 Dzulhijjah pagi, jemaah dijamin penuh dengan pasokan 15 porsi makanan siap santap utama yang dikelola langsung oleh syarikah resmi Arab Saudi, yakni Rakeen Mashariq dan Albait Guest.
“Fase Armuzna adalah fase yang sangat padat dan kompleks. Karena itu, layanan konsumsi harus dipastikan berjalan baik. Bagi kami, konsumsi bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan dan stamina jemaah agar dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk,” jelas Maria.
Sementara itu, jemaah dibekali dengan 6 porsi makanan siap santap pengapit untuk memenuhi kebutuhan makan mereka saat berada di hotel pemondokan Makkah pada masa transisi pergerakan.
Jatah 6 kali makan hotel ini disalurkan spesifik pada fase pra-Armuzna (7 dan 8 Dzulhijjah) serta pasca-Armuzna (13 Dzulhijjah), atau bertepatan dengan tanggal 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Produk katering hotel ini disuplai oleh tiga korporasi terpercaya Indonesia yang lolos uji BPOM dan SFDA, yaitu PT Halalan Thayyiban Indonesia, PT Indo Niaga Agro, dan PT Laukita Bersama Indonesia.
“Bagi jemaah, boks makanan ini tinggal dibuka dan langsung dikonsumsi karena sifatnya yang ready to eat. Makanan siap santap ini disiapkan dengan cita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia. Selain aman dan higienis, kami ingin makanan yang diterima jemaah juga familiar dan nyaman dikonsumsi,” urai Maria.
Kemenhaj mengamankan manajemen waktu dengan mewajibkan seluruh pasokan 6 porsi makanan hotel tersebut sudah selesai dikirim dan masuk ke kamar-kamar jemaah pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau Sabtu, 23 Mei 2026.
Langkah pencegahan ini memastikan setiap jemaah haji mandiri maupun reguler telah memegang cadangan logistik bergizi sebelum bus shalawat dinonaktifkan sementara dan jalur kota disterilisasi oleh kepolisian Makkah.
Sistem pengawasan kualitas pangan dijalankan tanpa celah melalui pemeriksaan rutin tiga kali sehari pada aspek pengemasan kedap udara hingga masa kedaluwarsa produk.
“Pengawasan dilakukan sejak proses produksi, pengemasan, hingga distribusi. Kami memastikan makanan yang diterima jemaah layak, higienis, aman dikonsumsi, dan mendukung kebutuhan fisik jemaah selama fase puncak haji,” kata Maria.
Melalui kepastian distribusi logistik pangan yang melimpah dan anti-ribet ini, keluarga di tanah air tidak perlu mengkhawatirkan asupan gizi jemaah lansia maupun risti. Jemaah diimbau fokus beribadah, makan tepat waktu, serta disiplin menghidrasi tubuh dengan air putih minimal 200 ml per jam.
“Jaga kesehatan, hemat tenaga, makan tepat waktu, dan ikuti arahan petugas. Semoga seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelancaran dalam menjalani puncak ibadah haji,” tutup Maria. [ian/MCH]






