Malang (beritajatim.com) – BINUS University Malang membuat pameran CITRAPATA – Final Project Exhibition sejak Senin (6/7/2026) hingga Kamis (9/7/2026) di kampus mereka. Sebanyak 94 karya inovatif dari mahasiswa program Visual Communication Design (DKV) dan Interactive Design & Technology (IDT) dipamerkan.
Mahasiswa sebelumnya melakukan riset mendalam, merumuskan konsep, sebelum membuat karya. Mahasiswa diminta mengangkat isu sosial dan industri tidak hanya di Malang namun sampai Manado hingga Papua.
Fokus karya tertuju pada komunikasi visual yang efektif, menciptakan strategi penguatan identitas brand, hingga pengembangan aplikasi dan solusi digital interaktif berbasis teknologi mutakhir bagi industri kreatif.
“Ini karya nyata yang bisa memberkkan dampak dan bisa digunakan langsung oleh masyarakat. Kami terus mendorong agar memiliki karya atau inovasi nyata yang bisa digunakan di masyarakat,” kata Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M.
Head of Visual Communication Design Binus Malang, Victor Adiluhung Abednego, S.T., M.Ds, mengatakan bahwa dia ingin mahasiswanya mengingat esensi dari seorang desainer di era modern. Pameran CITRAPATA menjadi bentuk nyata bagaimana peran Desainer hadir untuk menjadi solusi bagi permasalahan di masyarakat di era saat ini.
“Pameran ini sekaligus menjadi tugas akhir bagi mahasiswa. Saat pameran mereka secara bergiliran akan menjalani sidang akhir. Jadi ada beberapa kritetia mereka tidak hanya show off. Tapi akan ke ruang sidang apakah karya mereka bisa menyelesaikan masalah, memiliki estetika, dan pendekatan teknologinya seperti apa,” ujar Victor.
Direktur Kampus Binus Malang, Dr. Robertus Tang Herman, S.E., M.M., menuturkan pameran ini menjadi bukti kesiapan mental dan skill mahasiswa BINUS untuk bersaing di kancah global. Ajang ini menjadi bagian komitmen Binus Malang dalam mencetak talenta unggul di era digital sebagai digital technopreneur campus.
“Bagi BINUS Malang kami ingin menunjukan bahwa kampus datang sebagai penghubung dunia industri dan masyarakat,” kata Robert.
Sementara itu, salah satu mahasiswa BINUS Malang Arka Rasika Damara mengangkat riset soal Candi Jago di Malang sebagai tugas akhirnya. Dia mampu membuat batik, udeng, gantungan kunci, hingga kaos yang bertema Candi Jago sebagai kearifan lokal.
“Sebenarnya ada sedikit challenge, karena banyak visual yang sebenarnya sudah tidak relevan. Terutama beberapa motif yang saya bikin, seperti motif yang kayak burung angsa, motif serigala, dan bentuk candi itu sendiri, itu banyak yang saya rekonstruksi biar relevan. Kemudian saya mengubahnya sesuai dengan yang disukai sama orang sekarang,” ujar Arka. [luc/suf]






