Ponorogo (beritajatim.com) – Ribuan mahasiswa, santri, guru, alumni, dan masyarakat memadati lapangan kampus Universitas Darussalam (Unida) Gontor di Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo.
Mereka mengikuti tabligh akbar yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Milad ke-63 Unida Gontor. Antusiasme jamaah terlihat sejak sore hingga memenuhi area utama kompleks kampus.
Tabligh akbar menghadirkan dai nasional, Dr. KH. Adi Hidayat, Lc., M.A., sebagai penceramah utama. Kehadirannya menjadi agenda syiar terakhir sebelum puncak peringatan satu abad Gontor yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Ribuan peserta tampak khusyuk menyimak tausiah yang berlangsung hingga malam.
Dalam tausiahnya, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa usia satu abad bukan sekadar momentum untuk bersyukur. Menurutnya, perjalanan 100 tahun justru menjadi titik awal untuk melahirkan gagasan dan pembaruan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat pada masa sekarang.
Al Ustaz mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang hadirnya pembaru agama pada setiap pergantian satu abad. Hadis tersebut, kata Adi Hidayat, menjadi landasan penting bagi Gontor untuk terus menghadirkan kontribusi nyata bagi umat melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
“100 tahun Gontor, 100 tahun Darussalam, bukan sekadar pencapaian yang harus disyukuri, bukan sekadar hadiah yang harus dinikmati. Tapi di saat yang sama, 100 tahun itu adalah pijakan dari hadis Nabi untuk menyusun kebaruan-kebaruan yang dibutuhkan masyarakat di era kini,” ungkap Adi Hidayat, Kamis (9/7/2026).
Dia menilai, pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan pembaru yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan zaman. Karena itu, nilai-nilai yang selama ini dibangun Gontor harus terus dikembangkan agar tetap relevan dengan tantangan masa depan.
Adi Hidayat kemudian membagikan pengalamannya saat menjadi pembicara utama dalam forum ulama internasional di Malaysia. Saat itu, dirinya tampil bersama mantan Mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah, yang mengulas ketokohan Imam An-Nawawi. Dari kisah tersebut,
Dia mengambil pelajaran bahwa keberkahan ilmu mampu mengangkat nama sebuah daerah hingga dikenal dunia. Menurutnya, hal serupa telah terjadi pada Gontor. Nama daerah kecil di Ponorogo itu, kini lebih dikenal masyarakat Muslim dunia berkat kiprah pesantren yang telah berdiri selama satu abad.
“Hari ini, setelah 100 tahun berdirinya, ada pondok namanya Darussalam. Tapi yang dikenal masyarakat bukan hanya nama pesantrennya, melainkan Gontor, Ponorogo. Itu menunjukkan bagaimana sebuah tempat bisa dikenal karena amal dan ilmu yang lahir darinya,” ungkapnya.
Ustaz Adi Hidayat berharap, memasuki abad kedua, Gontor tidak berhenti pada capaian sejarah. Sebaliknya, lembaga pendidikan itu harus semakin produktif melahirkan pemikiran, karya, dan tokoh yang mampu menjadi rujukan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia.
Sementara itu, Rektor Unida Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan tabligh akbar merupakan bagian dari khidmah kepada masyarakat dalam rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dan Milad ke 63 UNIDA Gontor.
Menurut Hamid, menghadirkan dai nasional sudah menjadi tradisi dalam setiap momentum besar Gontor. Setelah sebelumnya mengundang Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Das’ad Latif, kali ini panitia memilih mengundang Ustaz Adi Hidayat sebagai penutup rangkaian syiar sebelum acara puncak.
“Malam ini adalah syiar. Kalau sebelumnya ada hidangan untuk kebutuhan jasmani, malam ini adalah hidangan untuk hati dan jiwa kita. Mudah-mudahan pertemuan ini membawa keberkahan bagi semuanya,” kata Hamid.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Ustaz Adi Hidayat yang tetap memenuhi undangan Gontor meski baru kembali dari Jepang. Bahkan, menurutnya, sang dai memilih hadir di Gontor dibanding memenuhi undangan lain dari luar negeri.
Hamid berharap, tabligh akbar tersebut tidak hanya menjadi perayaan seremonial. Dia ingin momentum satu abad Gontor semakin menguatkan tradisi ilmu, adab, dan pengabdian yang selama ini menjadi fondasi Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mencetak kader umat dan pemimpin masa depan. [end/suf]






