Jakarta (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia kini tidak perlu lagi keluar gedung hotel untuk berburu kuliner nusantara maupun oleh-oleh, karena Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah menyiapkan stand UMKM khusus di lobi 280 hotel di Makkah dan Madinah. Kebijakan strategis ini diambil guna memastikan stamina dan fisik ratusan ribu jemaah tetap terjaga prima dengan meminimalisir aktivitas fisik yang tidak perlu di luar hotel sebelum memasuki puncak prosesi ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Langkah inovatif ini merespons kebiasaan jemaah yang seringkali memaksakan diri mencari makanan khas Indonesia di luar area pemondokan, yang justru berisiko memicu kelelahan ekstrem. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji, Prof. Dr. Jaenal Efendi, menjelaskan bahwa optimalisasi fungsi lobi hotel tahun ini akan menyediakan berbagai menu “obat rindu” mulai dari bakso hingga rawon yang dikelola langsung oleh masyarakat Indonesia di Arab Saudi.
“Lobi hotel ini biasanya kadang jemaah itu rindu masakan-masakan khas yang lainnya yang tidak terdapat di menu haji itu, misalnya bakso, kopi, rawon yang ada di situ ya. Sehingga di lobi ini kita buat tenan-tenan nih. Kita buatkan tenan-tenan dan siapa ini yang menjual? Siapa ini penghuninya? Adalah para masyarakat kita yang di Saudi. Sehingga mereka betul-betul menikmati itu, yang kemudian bisa ini,” ujar Jaenal Efendi saat memberikan keterangan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Pemanfaatan lobi hotel sebagai pusat ekonomi dan kuliner ini mencakup seluruh hotel yang telah disewa secara penuh oleh pemerintah Indonesia. Selain makanan siap saji, stand tersebut juga akan menyediakan berbagai produk UMKM unggulan daerah sebagai oleh-oleh, sehingga jemaah asal berbagai kabupaten/kota, termasuk dari Jawa Timur, tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke pasar-pasar tradisional di Saudi yang menguras tenaga.
“Jadi di seluruh hotel, kurang lebih sekitar 280-an hotel yang ada itu nanti kita di lobinya itu kita manfaatkan untuk adanya temu masyarakat untuk merasakan masakan-masakan khas Indonesia yang ada di sana,” lanjut Jaenal.
Kehadiran tenan kuliner dan oleh-oleh di dalam hotel ini juga didukung oleh keterlibatan perusahaan logistik nasional seperti PT Pos dan JNE untuk memastikan rantai pasok barang berjalan lancar. Pemerintah menegaskan bahwa penggunaan area lobi merupakan bagian dari kontrak sewa bangunan secara utuh, sehingga jemaah mendapatkan privasi dan kenyamanan lebih tanpa gangguan pihak luar.
“Kita juga menyiapkan itu, perizinan ini itu juga sedang kita godok dan memang hotel ini sudah sepenuhnya kita sewa ini ya, kamar maupun lobi yang ada. Sehingga kita bisa manfaatkan asal nanti kita tertib, regulasinya juga kita penuhi, itu yang akan kita inikan,” tegasnya.
Melalui integrasi layanan ini, jemaah diharapkan dapat fokus sepenuhnya pada penguatan aspek spiritual dan penghematan energi. Dengan tersedianya segala kebutuhan konsumsi dan buah tangan di dalam gedung, risiko jemaah terpapar panas ekstrem atau tersesat saat mencari makan di luar gedung dapat ditekan secara signifikan sebelum dimulainya fase puncak haji yang sangat menuntut ketahanan fisik.
Selain stand fisik, pemerintah juga menyiapkan dukungan digital melalui platform khusus yang memungkinkan jemaah memesan produk oleh-oleh tanpa perlu membawanya dalam koper. “Ini kita lagi mengembangkan platform, platform oleh-oleh haji gitu ya, yang ini jemaah belum sampai ke rumah, barang-barang ini sudah sampai ke rumah,” ungkap Jaenal. [ian/aje]






