Surabaya (beritajatim.com) – Rencana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama sebulan pada Ramadhan 2025, saat ini sedang hangat dibicarakan. Wacana ini diungkapkan Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i.
Syafi’i telah mengkonfirmasi adanya pembicaraan mengenai kebijakan libur selama puasa 2025. Namun, ia menyebutkan bahwa hal ini belum dibahas lebih lanjut di Kementerian Agama.
Wacana ini juga mengingatkan pada kebijakan serupa yang diterapkan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur, yang memberikan libur 1 bulan penuh saat puasa.
Menanggapi hal itu, Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Achmad Hidayatullah PhD menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan tersebut.
Dayat mempertanyakan apakah kebijakan libur ini didasarkan pada pertimbangan yang kuat mengenai kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, jika kebijakan ini dibuat dengan anggapan bahwa fokus dan motivasi siswa akan menurun selama puasa, maka kebijakan itu tidak memiliki dasar yang kuat.
“Jika diambil berdasarkan asumsi bahwa fokus, produktivitas, dan motivasi akan menurun selama bulan puasa, tentu kebijakan tersebut tidak memiliki landasan epistemologis yang kuat,” katanya, Sabtu (4/1/2025).
Dayat menambahkan bahwa pemerintah tampaknya memiliki pandangan bahwa Ramadhan adalah waktu untuk ibadah, sementara pendidikan dianggap mengganggu ibadah.
Padahal, lanjut Dayat, pendidikan sudah mengintegrasikan nilai-nilai agama, seperti dalam profil pelajar Pancasila dan program kebiasaan baik untuk anak.
Ia menegaskan bahwa ibadah dan pendidikan tidak perlu dipisahkan. Menurutnya, penguatan nilai keagamaan akan lebih efektif jika sekolah tetap berlangsung selama Ramadhan, bukan dengan libur.
“Artinya, pemerintah tidak perlu memisahkan antara ibadah dan pendidikan. Seolah Ramadhan menjadi waktu untuk belajar agama dan sekolah diliburkan. Penguatan nilai keagamaan tanpa meliburkan sekolah justru akan lebih baik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dayat menyatakan, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa sekolah selama Ramadhan mengurangi motivasi dan fokus siswa. Mengacu pada teori kognitif sosial dari Bandura, lingkungan seperti sekolah justru penting dalam membentuk perilaku dan kemampuan siswa.
Jika sekolah diliburkan selama puasa, lingkungan pendidikan akan menjadi pasif dan tidak dapat memberikan stimulus bagi siswa. Hal ini justru dapat mengurangi rasa percaya diri siswa dalam belajar dan beribadah.
Selain itu, libur penuh dapat membuat siswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel, yang dapat meningkatkan rasa cemas dan kesendirian.
Dayat juga mengingatkan bahwa kebijakan libur pada masa Presiden Gus Dur tidak relevan dengan kondisi sekarang, di mana teknologi digital memengaruhi kehidupan siswa.
Menurutnya, dengan tetap bersekolah, siswa dapat lebih terarah dalam belajar dan beribadah daripada memiliki waktu luang yang kosong. “Siswa akan lebih terarah untuk belajar dan beribadah dari pada waktu mereka libur dan banyak watu kosong,” tandasnya. [ipl/kun]






