Bandung (beritajatim.com) – Masa remaja Hikmat yang penuh keceriaan seketika runtuh saat ia harus menerima kenyataan bahwa penglihatannya terganggu. Mimpi untuk menyelesaikan pendidikan di sebuah kampus ternama di Kota Bandung pun pupus.
“Saya percaya, ketika satu pintu rezeki ditutup, Allah bukakan pintu-pintu rezeki lainnya,” kata Hikmat Firdaus, instruktur Shiatsu Sentra Wyata Guna Bandung. Kalimat ini menjadi penyemangat bagi Hikmat dalam menjalani kehidupannya setelah mengalami kehilangan penglihatan akibat operasi meningitis.
Awalnya, Hikmat menolak untuk menerima kenyataan bahwa dirinya adalah penyandang disabilitas netra. Ia sempat mencoba berbagai pengobatan alternatif dengan harapan penglihatannya dapat pulih. Namun, seiring waktu, Hikmat mulai menerima keadaan dan mencari cara untuk hidup mandiri.
Perjalanan Hikmat untuk bangkit dari keterpurukan membawanya mengikuti pelatihan pijat shiatsu bagi disabilitas sensorik netra di Sentra Wyata Guna Bandung. Di sana, selama tiga tahun, ia tidak hanya mempelajari teknik pijat shiatsu, tetapi juga mendapatkan pelatihan pengelolaan panti, manajemen pengelolaan terapis dan pasien, hingga kesempatan magang.
Memasuki tahun 2006, Hikmat memulai karirnya sebagai pengusaha dan terapis Pijat Shiatsu “Paradise” di Cimahi. Kegigihan dan tekadnya mengantarkan Hikmat meraih kesuksesan. Selama 18 tahun berdiri, “Paradise” tidak hanya meningkatkan perekonomian Hikmat dan keluarga, tetapi juga membuka peluang bagi sembilan terapis lain penyandang sensorik netra untuk bekerja dan hidup mandiri.
Mantan mahasiswa Teknik Kimia ini mengungkapkan bahwa setiap bulan perusahaannya menerima sekitar 600 hingga 700 pasien dengan tarif Rp 50.000 per pasien. Omzet perusahaannya mencapai Rp 20 juta hingga Rp 22 juta per bulan. “Kalau setiap terapis menangani 60 pasien per bulan dengan tarif Rp 50.000, maka setiap terapis bisa mendapat Rp 3 juta – Rp 4 juta per bulan. Itu sudah bersih dan belum termasuk tip,” ungkap Hikmat.
Kesuksesan Hikmat tidak membuatnya berhenti berbagi ilmu. Ia membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas sensorik netra yang ingin belajar shiatsu melalui Sentra Wyata Guna maupun secara personal. Baginya, di tengah persaingan kerja yang sulit, ia ingin membantu teman-teman penyandang disabilitas netra lainnya untuk memiliki penghasilan dan hidup mandiri.
Kisah inspiratif Hikmat Firdaus menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan. Kegigihan, tekad, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci utama bagi Hikmat untuk mengubah hidupnya dan memberdayakan sesama penyandang disabilitas netra. [aje]






