Liverpool (beritajatim.com) – Dua dekade silam, Francesco Totti nyaris menyeberang ke Real Madrid. Tidak tanggung-tanggung. Real dua kali menawarinya untuk merapat. Pada 2004 dan 2006. Tetapi, Totti bergeming. Baginya, menjadi one-club player di klub kelahiran adalah kebanggaan tak terhingga.
Total, Totti menghabiskan 28 tahun karier sepak bolanya bersama AS Roma. Dihitung sejak ada di tim junior. Dia mencatatkan 786 laga dengan mengemas 307 gol dan 205 assist. Statistik luar biasa. Tetapi, bagaimana dengan koleksi trofi? Totti hanya memenangi 4 gelar bersama Giallorossi. Dihitung sejak debut profesional pada 1993, rata-rata dia hanya mendapat 1 trofi per enam tahun.
Sangat mungkin, Totti bakal bergelimang gelar atau bahkan Ballon d’Or jika memutuskan hengkang ke Real. Tetapi, kesetiaan memang mahal harganya.
“Aku tidak menyesali apa pun. Bertahan di ASR sangat membanggakan dan tidak bisa diukur oleh apa pun,” ujar Totti dilansir Sky Sports.
Hal seperti itu yang mulai langka di sepak bola zaman now. Godaan berkostum tim yang lebih besar (atau langsung sebut saja Real) memang sangat menggiurkan. Label raja LaLiga dengan 36 trofi dan Liga Champions dengan 15 gelar bikin silau siapa pun. Itu belum termasuk kehadiran pemain kelas dunia di tiap posisi. Bukan tiap lini.
Trent Alexander-Arnold jadi yang terbaru kepincut pesona Los Merengues. Sore tadi, bek Liverpool FC Trent Alexander-Arnold mengumumkan perpisahan terhadap klub masa kecilnya itu melalui surat terbuka. Meski masih malu-malu kucing mengumumkan kepindahan ke Real, itu sudah terendus sejak Maret tahun lalu ketika kontraknya bersama LFC tak kunjung diperpanjang.
Padahal, LFC bukannya enggan memperpanjang kontrak TAA. Dilansir The Athletic, LFC telah menyodorkan proposal perpanjangan dengan iming-iming gaji tertinggi di Premier League untuk fullback dan salah satu yang tertinggi di dunia. Tetapi, isi kepala TAA sudah dipenuhi oleh bayang-bayang indah jika berkostum Real.
“Ini (pergi dari LFC, Red) keputusan tersulit dalam hidupku. LFC adalah duniaku. Terima kasih sebesar-besarnya terhadap semuanya. Tetapi, aku harus mengambil keputusan ini demi perkembangan karierku,” tulis TAA dilansir laman resmi LFC.
Total, TAA berkarier selama 21 tahun bersama LFC sejak tim junior. Dengan usianya yang baru menjejak 27 tahun pada 7 Oktober mendatang, artinya TAA telah bergabung ke akademi The Reds sejak usia 4-5 tahun.
TAA juga seorang scousers alias kelahiran Liverpool. Dia juga telah memenangi segalanya bersama rival sekota Everton itu. Total, ada 8 trofi dari 7 ajang. Antara lain Premier League, Piala FA, Piala Liga, Community Shield, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.
Jika tolok ukurnya adalah memburu trofi Eropa atau dunia, jelas tidak akan bisa diterima oleh pendukung LFC. Ya, berkostum Real adalah kebanggaan. Meski nanti gagal beradaptasi atau koleksi gelar di Real tak sebanyak di LFC, yang penting pernah mencicipi berkandang di Estadio Santiago Bernabeu, Madrid.
Di Real nanti, TAA memang akan diplot sebagai bek kanan utama. Dia adalah suksesor tepat Dani Carvajal yang telah berusia 33 tahun.
Tetapi bukan berarti dia tak tersentuh. Jika lamban beradaptasi, Federico Valverde yang juga piawai jadi bek kanan, selain gelandang sebagai prioritasnya, siap merampas posisinya. Apalagi, Real juga sangat mungkin bakal mendatangkan gelandang baru musim panas ini.
Terlepas dari pro-kontra, mendatangkan TAA tetap langkah (yang terlihat) jitu bagi Real. Inisiatif tersebut mempertegas keyakinan bahwa mereka doyan mendatangkan pemain gratisan tetapi berlabel bintang dalam empat tahun terakhir. Dimulai dengan David Alaba (2021), Antonio Rudiger (2022), Kylian Mbappe (2024), dan sekarang TAA.
Bukan tidak mungkin Real telah menyusun nama siapa lagi pemain gratisan yang akan diangkut tahun depan. Padahal, secara finansial, mereka lebih dari mampu untuk membeli pemain berbanderol mahal.
Magnet Real memang nyaris mustahil ditolak. Tetapi, kesetiaan seperti Totti tidak bisa diduplikasi dengan mudah. (dio/ian)







1 Komentar
Selama bermain untuk Pool, Trent sudah mempersembahkan semua gelar, baik di level domestik, Eropa dan dunia. Karena kontribusinya dan juga dia anak lokal, hampir semua pens Pool berharap dia akan menjadi kapten berikut. Tapi apa boleh buat, ternyata harapan itu sepertinya tidak terwujud karena dia memutuskan untuk tidak meperpanjang kontrak dan pindah ke Real.
Sebagai pens Pool, sy secara pribadi legowo atas keputusannya. Toh percuma juga maksa pemaen perpanjang kontrak, tapi hatinya udah buat klub lain.
Sepakat dengan penulis. Sepertinya dijaman sepakbola sekarang ini, akan sangat sulit menemukan lagi pemaen yang bertahan di satu klub saja.
Terimakasih, Trent !