Surabaya (beritajatim.com) – Menandai Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (1926–2026), Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PWNU Jawa Timur menggelar Pameran Lukisan Nasional bertajuk Mangsa Kalasubo. Pameran ini berlangsung pada 30 Januari hingga 8 Februari 2026 di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Komplek Balai Pemuda Surabaya.
Tema Mangsa Kalasubo diangkat sebagai simbol harapan akan hadirnya masa cerah bagi semesta alam, khususnya bagi Nahdlatul Ulama dan Indonesia. Pameran dijadwalkan dibuka secara resmi pada Jumat malam (30/1/2026) pukul 19.00 WIB oleh Ketua PWNU Jawa Timur dan melibatkan sejumlah perupa nasional, di antaranya KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Acep Zamzam Nur, Nasirun, hingga Nabila Dewi Gayatri yang juga menjadi inisiator kegiatan.
Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Timur, Nabila Dewi Gayatri, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari kesadaran akan kekayaan seni budaya Indonesia yang luar biasa, terbentang dari berbagai pulau dan termanifestasi dalam beragam bentuk karya seperti seni rupa, tari, teater, dan sastra. Menurutnya, sastra lisan maupun tulisan tumbuh subur di berbagai suku di Nusantara dan menjadi warisan intelektual leluhur yang diturunkan lintas generasi.
“Kendati zaman terus berkembang semakin modern, secara psikologis bangsa Indonesia masih sangat kental dengan tradisi dan tinggalan leluhur. Kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari akar budaya yang telah melekat dalam jiwa,” ungkap Nabila.
Ia mencontohkan bagaimana catatan dan ramalan kuno masih kerap dijadikan rujukan untuk membaca perkembangan zaman, salah satunya ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri. Dalam ramalannya disebutkan bahwa setelah masa Kalabendu—masa penuh kekacauan dan kesulitan—akan datang Mangsa Kalasubo, yakni era ketika keadilan dan kemakmuran berangsur terwujud dan Indonesia memasuki masa keemasan.
“Apakah ramalan itu akan terwujud atau sekadar utopia, tentu tidak bisa dipastikan. Namun paling tidak, kita masih memiliki harapan dan cita-cita bersama,” tegasnya.

Bagi Nabila, harapan merupakan nyala yang membuat manusia terus bergerak untuk merdeka, berkarya, dan menghadirkan kemaslahatan. Mitos dan kepercayaan leluhur menjadi katarsis yang mendorong bangsa ini terus berjuang mewujudkan kedaulatan dan kemandirian. Ia mengingatkan bahwa pada masa Pangeran Diponegoro maupun era Revolusi, figur Ratu Adil atau Heru Cakra sering digaungkan sebagai simbol perlawanan dan energi perjuangan kolektif.
Dalam konteks kekinian, Mangsa Kalasubo dimaknai sebagai pitutur folklor yang menegaskan hadirnya harapan di tengah krisis berkepanjangan. Menurut Nabila, krisis yang dialami bangsa ini tidak lepas dari krisis moral dan amanah, ketika kekuasaan membuat lupa nilai etika, iman, dan kebenaran.
“Husnudzan kepada Pemberi Hidup, setelah 2025 alam akan bergeser dan memihak kebenaran. Hukum ditegakkan, keadilan dan kemakmuran akan datang. Namun semua itu hanya bisa terwujud jika kita mengambil peran masing-masing,” ujarnya.
Ia menegaskan, seniman memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Melalui daya cipta dan karya, seniman mampu menggelorakan vibrasi kebenaran yang berdampak pada perubahan sosial.
“Maka besar harapan saya, pameran Mangsa Kalasubo ini menjadi wadah bagi seniman rupa Indonesia untuk terus menggaungkan persatuan, bersikap kritis, dan tak henti menyuarakan kebenaran agar Mangsa Kalasubo benar-benar terwujud,” pungkasnya. [but]






