Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS Surabaya Prof Titiek Suryani mengkaji peran pengolahan sinyal komunikasi dalam perkembangan teknologi telekomunikasi Indonesia.
Pengolahan sinyal komunikasi diperlukan untuk membuat sinyal pembawa informasi siap dikirimkan. Dalam pengiriman sinyal itu, ada dua poin penting, yakni spektrum frekuensi (bandwidth) dan daya.
“Kedua hal ini harus dikelola dengan tepat guna menghadapi perkembangan teknologi telekomunikasi,” ungkap Titiek ditulis Sabtu (16/12/2023).
Namun, kata dia, ada tarik ulur dalam pengelolaan kedua sumber daya tersebut. Jika kebutuhan daya diminimalisasi maka bandwidth akan semakin besar, begitu pula sebaliknya.
Hal itu menyebabkan komunikasi data kecepatan tinggi rentan mengalami distorsi atau cacat sinyal. “Karena itu, peran pengolahan sinyal komunikasi sangatlah penting guna memadukan daya dan bandwidth,” katanya.
Ia memaparkan, berbagai teknik pengolahan sinyal komunikasi telah berkembang saat ini, salah satunya teknik transmisi multicarrier. Teknik transmisi sinyal pesan ini memakai sejumlah sinyal pembawa bersifat istimewa.
Dengan teknik tersebut, bandwidth pengiriman data kecepatan tinggi yang lebar dapat diperkecil secara signifikan dan sinyal komunikasi lebih tahan terhadap gangguan frekuensi.
Selain itu, banyaknya pengguna ponsel berpotensi untuk pengolahan sinyal komunikasi yang efektif. Titiek menjelaskan, saat ponsel tidak digunakan, terdapat perangkat pemancar dan penerima yang menganggur.
Kondisi itu dapat dimanfaatkan untuk memancarkan balik informasi dari pengguna lain yang terdekat. “Teknik ini disebut teknik komunikasi kooperatif,” tutur profesor dari Departemen Teknik Elektro ITS ini.
Dengan teknik itu, ponsel-ponsel yang tidak dipakai busa bekerja sama memancarkan balik informasi dari satu sumber ponsel. Menurutnya, teknik komunikasi kooperatif dapat menanggulangi gangguan yang terjadi pada salah satu jalur sinyal dengan mengalihkan sinyal ke jalur lain.
“Hal ini membantu keberlanjutan layanan komunikasi di Indonesia,” jelas Guru Besar ITS ke-185 tersebut.
Selain dua teknik pengolahan sinyal komunikasi tersebut, masih banyak teknik lain seperti machine learning, teknik akses jamak, dan lainnya.
Menurutnya, teknik pengolahan sinyal komunikasi ini perlu dikombinasikan dengan perkembangan teknologi agar mampu memadukan daya dan bandwidth. “Hal ini untuk mewujudkan bandwidth yang efisien serta hemat daya,” ungkapnya.
Penelitian Titiek ini menjadi gerbang untuk menjawab persoalan kebutuhan layanan komunikasi di Indonesia. Ia pun berharap, meningkatnya efektivitas teknik pengolahan sinyal dapat membawa pemerataan layanan komunikasi yang keberlanjutan di seluruh daerah.
“Dengan begitu, perkembangan teknologi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama,” pungkasnya. [ipl/but]






