Surabaya (beritajatim.com) – Tanah longsor yang terjadi di Dusun Supit, Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang pada Selasa (4/6/2024) siang, diduga salah satunya akibat pengaruh aktivitas manusia.
Pakar Geologi ITS Amien Widodo mengatakan bahwa berdasarkan prinsip gerak benda di bidang miring, maka stabilitas tanah endapan dapat berubah tidak stabil. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tiga faktor.
Pertama, karena pemotongan lereng bagian bawah akibat banyaknya aktivitas seperti tererosi oleh sungai atau longsor. Bisa juga akibat aktivitas manusia seperti penambangan, pembuatan terowongan, hingga pembuatan jalan dan pelebaran rumah di tepi lereng.
“Pemotongan lereng di bagian bawah meningkatkan sudut kemiringan lereng, sehingga lapisan tanah di lerengan menjadi semakin kritis,” jelas Amien kepada beritajatim.com, Rabu (5/6/2024).
Kedua, penambahan beban membuat lapisan tanah di lereng semakin berat. Sehingga, lapisan tanah di lereng menjadi kritis. Hal ini bisa diakibatkan oleh kondisi alam seperti dampak dari penambahan oleh air hujan.
“Penambahan air menyebabkan berat lapisan tanah di lereng semakin berat, sehingga lapisan tanah di lereng kritis. Penambahan air juga menyebabkan tanah jenuh air sehingga daya ikat tanah (kohesi) menurun,” jelasnya.
Ketiga, adanya getaran yang akan merubah dan melepaskan ikatan antar butir tanah sehingga tanah menjadi kritis. Getaran ini muncul karena terdapat gempa atau ulah manusia. Misalnya pengeboman hingga aktivitas kendaraan berat, dan sebagainya.
“Kejadian longsor tambang di Pronojiwo kemungkinan karena kombinasi faktor tersebut,” ungkap Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS tersebut.
Amien menilai, semua orang tentu mengetahui tentang gerak benda di bidang miring. Benda itu dapat bergerak jika ada penambahan beban pada benda tersebut, dan atau terdapat perubahan sudut kemiringan bidang.
Umumnya, lanjut dia, tebing sungai besar dibentuk oleh tanah endapan yang sudah mengendap di masa lampau. Jika proses sedimentasi terus menerus dengan sumber endapan dari gunung api aktif maka tanah sedimen akan tebal.
“Indonesia banyak gunung api aktif sehingga banyak endapan vulkanik di sekeliling gunung tersebut. Endapan vulkanik, awalnya endapan abu-pasir-kerikil secara alami akan mengalami pelapukan dan berubah menjadi tanah,” terangnya.
Selanjutnya, tanah endapan itu terbentuk karena faktor iklim, topografi, batuan, vegetasi dan waktu. Iklim khususnya hujan dan panas mempercepat proses pelapukan. Indonesia beriklim tropis, maka tanah yang terbentuk lebih tebal ketimbang kawasan lainnya.
“Tanah endapan vulkanik umumnya meghasilkan tanah subur dan kesuburan tanah ini yang memgundang masyarakat datang dan bermukim,” kata dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu.
Diberitakan sebelumnya, tanah longsor menimpa empat orang penambang pasir di Dusun Supit, Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Selasa (4/6/2024) siang. Mereka tertimbun material longsor yang terjadi sekitar pukul 11.45 WIB.
Kejadian ini bermula saat keempat penambang sedang beraktivitas di lokasi pertambangan pasir. Diduga, tanah longsor terjadi akibat tebing di sekitar area pertambangan ambrol karena tanah basah pasca hujan deras. [ipl/kun]






