Jember (beritajatim.com) – Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, memuji keberadaan pabrik pupuk organik milik pemerintah daerah. Namun PPP menekankan perlunya edukasi terhadap masyarakat.
“Keberadaan pabrik pupuk organik di Kabupaten Jember sebenarnya merupakan langkah positif dalam mendukung pertanian yang berkelanjutan,” kata juru bicara Fraksi PPP Ahmad Ibnu Baqir, dalam sidang paripurna pembahasan APBD 2025, di gedung DPRD Jember, Selasa (19/11/2024).
Namun, menurut Baqir, hingga saat ini pengaruh pabrik pupik organik terhadap kesejahteraan petani di Jember masih belum terasa signifikan. “Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan petani pada pupuk bersubsidi yang selama ini telah terbukti kualitasnya dalam meningkatkan hasil panen,” katanya.
Pejabat Sementara Bupati Imam Hidayat berterima kasih dengan apresiasi PPP. “Langkah yang telah dilakukan adalah dengan terus melakukan edukasi melalui demplot aplikasi pupuk organik ini dan hasilnya disebarluaskan ke masyarakat petani melalui berbagai kesempatan,” katanya.
Resmi Berdiri pada Desember 2023
Pabrik pupuk organik milik Pemkab Jember Pabrik ini resmi berdiri, di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Rabu (27/12/2023), dengan kapasitas produksi 20-30 ton per hari. Dibangun dengan anggaran Rp 3,2 miliar, Ini salah satu ikhtiar mengatasi kelangkaan pupuk sekaligus mengembalikan kesuburan tanah.
Produk pabrik pupuk organik tersebut adalah hasil kolaborasi 85 pelaku industri rumah tangga pupuk di Jember. “Semua memberikan dukungan. Jadilah Si Jempol, Jember Pupuk Organik Lengkap. Itu nama pupuk organik Kabupaten Jember. Produksinya bisa 50-60 ton per hari,” kara Bupati Hendy Siswanto, sebagaimana diberitakan Beritajatim.com, 27 Desember 2023.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Jember Imam Sudarmaji dalam sebuah kesempatan mengatakan, sosialisasi terus dilakukan kepada para petani yang memiliki ternak. “Biar kotoran hewannya sebagai bahan dasar tidak dibuang sembarangan. Kami ambil membayar upah untuk memasukkan (kotoran hewan) ke karung,” katanya kepada Beritajatim.com, 18 Juli 2024.
Dinas TPHP membayar Rp 5 ribu untuk setiap karung kotoran hewan berkapasitas 50 kilogram, mulai dari pengemasan dalam karung hingga membawanya ke kendaraan pengangkut. Ada sejumlah peternak dari Kecamatan Sumberjambe, Sukowono, Gumukmas, Mumbulsari mulai membantu Pemkab Jember untuk suplai bahan baku kotoran ternak.
“Dan kami akan memberikan pupuk (organik) kepada kelompok yang membantu kami. Ada pembagian hasil produksi pabrik pupuk Si Jempol sebagai timbal balik,” kata Imam Sudarmaji. Sebanyak 120 ton pabrik pupuk organik dibagikan kepada petani di wilayah kerja sepuluh koordinator wilayah penyuluhan.
Pupuk organik Si Jempol ini dicoba awal di Desa Sumberrejo Kecamatan Ambulu, dan Kecamatan Jombang. “Setelah diuji coba awal, banyak kelompok tani yang meminta dikirimi pupuk organik,” kata Imam Sudarmaji.
Dari 1.753 kelompok tani di Jember, kurang lebih ada 120 kelompok tani yang mencoba. “Permintaan semakin banyak. Diharapkan untuk pabrik ini ada banyak masukan dan saran agar pupuk organik itu benar-benar menjadi pupuk organik yang jempol, berkualitas,” kata Imam Sudarmaji.
Imam Sudarmaji mempersilakan petani untuk mencoba sendiri pembuatan pupuk organik di pabrik tersebut, jika memiliki bahan baku. Mereka diharapkan bisa berpartisipasi dan mengetahui proses pembuatan pupuk organik di sana. Saat ini pabrik pupuk organik Si Jempol baru memproduksi 5-7 ton per hari karena kendala kurang lancarnya bahan baku.
Hasil Pupuk Organik ke Tanaman
Bagaimana hasil pupuk organik itu terhadap tanaman pangan? “Kami coba di awal, dengan konsetrasi satu hektare lahan diberi dua ton pupuk organik, kemarin di kelompok tani Desa Sumberrejo, dengan varietas padi Inpari 32, sudah bisa menghasilkan 9-11 ton per hektare,” kata Imam Sudarmaji.
Para petani menggunakan formulasi ‘2024’. “Dua ribu kilogram pupuk organik, 240 kilogram pupuk kimia. Hasilnya naik. Kalau murni pakai pupuk kimia, sekitar 7-8 ton. Petani di daerah selatan memang maju, sehingga mau melakukan kegiatan mekanisasi pertanian,” kata Imam Sudarmaji.
Panen padi di Sumberrejo saat mencoba pupuk organik Si Jempol adalah masa panen terakhir. Satu hektare padi yang digerojok pupuk organik Si Jempol aman dari serangan hama wereng. “Tumbuhan sampai usia 130 hari masih tegak kokoh,” kata Imam Sudarmaji.
Pupuk organik berhasil menghidupkan mikroba dalam tanah, sehingga membuat tanaman lebih kuat. “Kalau tanaman sudah berdiri kokoh, otomatis lebih tahan hama penyakit,” kata Imam Sudarmaji.
Pabrik pupuk organik senantiasa melakukan uji coba sebelum mengajukan izin merek dan edar. “Target kami, tahun ini petani mau menggunakan. Tahun depan bisa kami usulkan karena harus ada uji di lapangan,” kata Imam Sudarmaji.
Imam Sudarmaji mengatakan, penggunaan pupuk organik bisa menekan biaya produksi, pertanian ramah lingkungan, dan mengembalikan kesuburan tanah. “Karena petani kemarin mungkin dipacu secara instan dengan pupuk kimia, harapannya saat ini ada legacy buat anak cucu-cucu kita bahwa pertanian di Jember kembali subur,” katanya. [wir]






