Surabaya (beritajatim.com) – Masih ingat ada warga Ngawi yang mencampur nasinya dengan thiwul demi berhemat di tengah tingginya harga beras ? Hal itu rupanya memantik Ekonom Universitas Surabaya (Ubaya) Bambang Budiarto untuk angkat bicara.
Bambang mengatakan bahwa makanan tradisional thiwul ini sejatinya sangat menjanjikan. Bahkan dirinya berharap thiwul ini dapat naik kelas. Sebab, banyak hal yang menjadi daya tawar dari makanan berbahan ketela ini.
Baginya, bertahan hidup adalah konsep dasar dalam ekonomi yang sudah ada sejak manusia ada. Termasuk di era modern saat ini, dengan munculnya rambu-rambu harga sembako yang akan terus naik.
“Menyadari fakta itu, tentu saja tiap-tiap individu dalam masyarakat harus berpikir keras memutar otak menggali kreasi demi mampu melewati salah satu konsep dasar ekonomi tadi, yaitu mempertahankan hidup,” ujar Bambang kepada beritajatim.com, Jumat (23/2/2024).
Bambang melihat, thiwul sebagai peninggalan leluhur ini ternyata menjadi solusi alternatif dalam bertahan hidup dari cengkraman tingginya harga sembako saat ini, utamanya beras.
“Ritual wajib masa-masa menjelang bulan puasa, idul fitri, atau natal tahun baru adalah kenaikan harga sembako. Hal demikian dapat terjadi, lebih disebabkan oleh faktor psikologis dari pada faktor ekonomi,” jelasnya.
Dalam tataran teori, lanjut dia, kenaikan harga di luar masa tersebut juga dapat terjadi karena cost push di sisi penawaran atau demand pull, jika dari sisi permintaan.
“Jika sekarang ini di hari-hari seputaran pemungutan suara pilpres dan pileg ternyata juga terjadi kenaikan harga sembako, faktor psikologis tentu lebih besar pengaruhnya dibanding faktor ekonomi,” kata Bambang.
Masa panen panjang, cuaca atau musim, langka, serta tingginya harga pupuk yang berakibat pasokan komoditi tidak mencukupi, adalah masalah-masalah di sisi penawaran, yang tentu berkontribusi menaikkan harga.
Menurut Bambang, beras sejatinya komoditi yang kenal terhadap demand pull, kenaikan jumlahnya yang diminta di masyarakat cenderung lambat. Namun kecemasan masyarakat atas Pemilu 2024 yang saat ini di tahap penghitungan suara, menjadikan kekhawatiran masyarakat kian meningkat.
“Situasi politik diyakini dapat mempengaruhi situasi ekonomi. Memahami yang demikian, jurus berjaga-jaga pastilah disiapkan oleh banyak kelompok-kelompok dalam masyarakat, yang tentu saja akibatnya adalah kenaikan harga,” beber Bambang.
Nah, mencermati situasi itu, pada kelompok lain di masyarakat harus ‘babak belur’ karena tingginya harga beras. Jangka pendek, pemerintah mencoba siasat dengan impor. Bagi Bambang itu sah-sah saja, meskipun sebenarnya perlu dipikirkan opsi-opsi lainnya.
Namun, di masyarakat ternyata sudah selangkah lebih maju. Setelah budidaya porang yang beberapa waktu lalu begitu didambakan, dan ternyata saat ini tidak baik-baik, masyarakat kembali teringat warisan leluhur, yakni thiwul.
“Sebagai bagian dari alternatif solusi bertahan hidup dalam kajian ekonomi, thiwul tentu sangat menjanjikan, meskipun tidak pernah disebut oleh paslon capres-cawapres manapun,” katanya.
Menurutnya, ketersediaan komoditi, keterjangkauan harga, kemudahan pengolahan dan budidaya menjadi sejumlah daya tawar dari thiwul. Namun di sisi lain masih terdapat kelemahan yakni dari gengsi.
“Tentu ini menjadi PR besar bagi para chef untuk mengkreasi agar thiwul dapat dikonsumsi semua lapisan masyarakat tanpa malu dan sembunyi-sembunyi. Berharap thiwul naik kelas,” tuturnya.
Tak hanya itu, Bambang juga mengatakan bahwa kajian yang tidak boleh dilewatkan dan harus diketahui oleh khalayak adalah dari sisi kontribusi gizi.
“Minimal, sekarang terbuka sedikit pemahaman bahwa apabila sekedar menjadi solusi kenaikan harga beras, solusi bertahan hidup, solusi sing penting warek, awak gak ndredek, thiwul jawabannya (solusi yang penting kenyang, badan tidak kaget, thiwul jawabannya),” tandas Bambang. [ipl/aje]






