Surabaya (beritajatim.com) – Wafatnya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Dominikus Adi Sutarwijono alias Cak Awi di usianya yang ke-57 tahun meninggalkan duka mendalam di lingkungan pemerintahan Surabaya (Pemkot), Rabu (11/2/2026).
Kedatangan jasad mendiang yang tiba di Bandara Internasional Juanda hari ini dijemput oleh puluhan pejabat dan kader PDI Perjuangan. Ia meninggal dunia karena memiliki riwayat sakit saat menjalani pengobatan medis di Jakarta pada hari Selasa (10/2/2026) kemarin.
Sebagai mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya periode 2019-2025, Cak Awi sangat diakui oleh penerusnya Ketua DPC sekarang, Armuji (Cak Ji), sebagai sosok yang menginspirasi dan tokoh pemimpin baik semasa hidup.
“Kami sangat kehilangan dengan sosok Mas Adi Sutarwijono. Mas Adi Sutarwijono teman sahabat yang selalu bersama kita pada saat di Kantor DPRD maupun di Partai,” ujar Cak Ji di Rumah Duka Grand Heaven Surabaya, Rabu (11/2/2026).
Menurut Cak Ji, selama Cak Awi menjabat dua periode sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya, sejak 2019-2024 dan 2024-2029, ia memiliki visi ke depan yang cukup bagus untuk keberlanjutan pembangunan kota. Di tengah kehidupannya Cak Awi juga sebagai pejabat yang sederhana.
“Kehidupannya cukup sederhana. Orangnya baik, egaliter, dan itulah yang membikin dirinya (dikelilingi) banyak teman,” ungkap Wakil Wali Kota Surabaya itu.
Senada dengan Cak Ji, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa Cak Awi adalah figur pemimpin DPRD yang mampu menciptakan harmoni, berhasil menyatukan kemajemukan warna partai untuk kebaikan warga Kota Surabaya.
“Pemkot sangat harmoni betul dengan DPRD itu karena faktor kehadiran Ketua DPRD (Cak Awi) yang bisa merangkul. Ketua DPRD yang bisa ngemong. Dia adalah seorang kakak bagi kami semuanya. Dia adalah orang yang dipanuti,” ujar Eri Cahyadi.
Atas semua dedikasi dan perjuangan Cak Awi bersama warga, Eri juga mendoakan agar mendiang diberikan tempat yang mulia di sisi Tuhan.
Ia menyampaikan, ada sebuah pesan dari Cak Awi yang selalu disampaikan kepadanya semasa hidup, yaitu pesan tentang kesabaran serta kebesaran hati menjadi seorang pemimpin.
“Ini kalimat yang selalu saya ingat, ‘Ketika kita tidak berbuat apa-apa, tapi kita dituduh dan kita disakiti biarlah Tuhan yang membalas’,” pungkasnya. (rma/kun)






