Jember (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Jawa Timur, menyatakan krisis bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi beberapa hari terakhir belum banyak berdampak kepada siswa sekolah menengah pertama (SMP) negeri.
“Ada 94 SMP negeri yang kami monitor. Kalau dilihat dari jumlah anak yang tidak masuk atau terlambat hari ini, termasuk relatif kecil hari ini. Perentasenya sangat kecil,” kata Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Jember Tulus Wijayanto, Senin (28/7/2025).
Namun Tulus tidak berani memastikan hal serupa akan terjadi besok. “Berdasarkan arahan dan informasi dari pemerintah daerah, pimpinan kita sudah mengambil langkah terkait kelangkaan BBM iui. Kami tetap optimistis bahwa satu atau dua hari ke depan, stok di Jember dan pembelian di Jember kembali semula,” katanya.
Saat ini, warga Jember kesulitan memperoleh BBM karena terhambatnya distribusi dari Pertamina. Alhasil antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Sabtu (26/7/2025) malam dan Minggu (27/7/2025) pagi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Beritajatim.com, adfa sebagian siswa terlambat masuk sekolah karena terjebak kemacetan di lokasi antrean BBM yang meluber hingga jalan. Sebagian lagi terpaksa terlambat gara-gara tidak ada kendaraan yang bisa digunakan karena BBM menipis.
“Hari ini belum terlihat, walau pun ini sudah tejadi sejak Sabtu. Tapi sampai H+3 masih aman. Artinya kalau kita melihat polanya, anal-anak, maupun bapak ibu guru yang bertugas di sekolah tidak terpengaruh. Ada satu dua anak yang memang izin dengan kelangkaan BBM ini, tapi yang absen hari ini sangat kecil. Tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya,” kata Tulus.
Jika ada siswa yang terlambat atau minta izin tidak masuk sekolah karena terdampak kelangkaan BBM, menurut Tulus, harus ada permohonan izin ke sekolah. “Sehingga sekolah bisa mengambil langkah, misalkan melakukan pembelajaran dari sekolah ke anak tersebut sehingga tidak tertinggal,” kat Tulus.
Tulus tidak ingin situasi ini dimanfaatkan siswa yang ingin membolos. “Contoh, jarak rumah dan sekolahnya hanya 200 meter. Katrena teman-temannya yang jauh beralasan tidak bisa diantar dan dia ikut-ikutan minta izin. Kita harus bisa mengatur hal tersebut. Semangat belajar anak-anak harus dijaga dengan menyampaukan bahwa hal seperti ini akan normal,” katanya.
Dampak krisis BBM belum terlampau besar karena siswa sudah terzonasi saat masuk sekolah pertana kali. “Sekolah-sekolah ini kan berbasis zonasi sebenarnya. Artinya sekolah di situ kebetulan warga sekitar situ. Radius tertentu. Tidak sampai jauh,” kata Tulus. [wir]






