Ringkasan Berita:
- Disdagrin Jombang memperkenalkan batik pewarna alami dan kerajinan tas pandan kepada lima mahasiswa asing asal Libya dan Timor Leste melalui program WICA.
- Mahasiswa Universitas Merdeka Malang tersebut menyaksikan dan mencoba langsung proses membatik serta menganyam pandan di gerai Dekranasda Jombang.
- Disdagrin Jombang berharap pengenalan industri kreatif ramah lingkungan dapat memperluas promosi produk unggulan daerah dan mendorong industri hijau Jombang menembus pasar internasional.
Jombang (beritajatim.com) – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Jombang memperkenalkan batik berbahan pewarna alami dan kerajinan tas pandan kepada lima mahasiswa asing dari Libya dan Timor Leste, Sabtu (24/10/2026).
Melalui program Welcome Industri Kreatif and Other (WICA), para mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang tersebut diajak mengenal budaya lokal sekaligus mempelajari potensi industri kreatif ramah lingkungan di Jombang.
Lima mahasiswa tersebut terdiri atas tiga mahasiswa asal Timor Leste, yakni Rickhy Coelho, Epifanya, dan Laura, serta dua mahasiswa asal Libya, Abdul Latif dan Abdul Malik. Mereka berkesempatan melihat langsung proses pembuatan batik dengan pewarna alami dan kerajinan tas berbahan pandan yang menjadi bagian dari potensi industri kreatif Kabupaten Jombang.
Kunjungan diawali di Pendapa Kabupaten Jombang. Kedatangan rombongan disambut Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, Wakil Ketua DPRD Jombang Octadella Bulytha Permatasari, serta sejumlah pejabat Disdagrin Jombang.
Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai budaya dan potensi kerajinan lokal. Selanjutnya, mereka didampingi jajaran Disdagrin menuju gerai Dekranasda di Jalan KH Wahid Hasyim.
Gerai tersebut merupakan pusat promosi, etalase, sekaligus toko oleh-oleh resmi yang memasarkan berbagai produk unggulan dari pelaku industri kecil dan menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asli Jombang.
Kedatangan para mahasiswa di gerai Dekranasda disambut dengan tabuh lesung yang menghadirkan suasana tradisional. Mereka kemudian menyaksikan perajin memperagakan proses pembuatan batik menggunakan pewarna alami serta keterampilan menganyam pandan menjadi tas.
Para mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan kerajinan. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga aktif bertanya dan mencoba secara langsung keterampilan membatik serta menganyam pandan.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk mengenal kekayaan budaya Jombang sekaligus memahami praktik produksi kerajinan yang lebih ramah lingkungan. “Bagus sekali hasil karyanya, batik dan tas pandan,” ujar Rickhy.
Mahasiswa jurusan Sistem Informasi di Unmer Malang itu mengaku senang dapat berkunjung ke Jombang. Ia bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik berbahan pewarna alami dan kerajinan tas pandan yang sebelumnya hanya dapat dikenal melalui informasi atau gambar.
Apresiasi serupa disampaikan Abdul Malik, mahasiswa asal Libya yang datang bersama adiknya, Abdul Latif. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan di Unmer Malang. Malik juga mulai mempelajari bahasa Indonesia untuk mendukung komunikasi selama tinggal dan belajar di Indonesia.
“Saya Bersama adik, namanya Abdul Latif, juga kuliah di Unmer. Ini sudah bisa sedikit-sedikit Bahasa Indonesia,” kata mahasiswa berwajah arab ini.
Setelah melihat proses pembuatan batik dan anyaman pandan, rombongan mengamati berbagai produk kerajinan yang dipajang di etalase gerai Dekranasda. Dua mahasiswa perempuan asal Timor Leste bahkan terlihat mencoba kain batik berbahan pewarna alami.
Kepala Bidang Industri Disdagrin Jombang, Riska Mudianti, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Welcome Industri Kreatif and Other (WICA), yang notebene rangkaian dari Jomfest (Jombang Festival) 2026. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman edukatif kepada mahasiswa asing melalui pengenalan dan praktik langsung industri kreatif daerah.
“Di sini kita mendatangkan kunjungan edukasi dari mahasiswa Unmer yang berasal dari Libya dan Timor Leste. Kemudian untuk mencoba praktik membatik, menganyam. Karena Kabupaten Jombang masuk 4 nominasi industri hijau dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia dalam pengimplementasian industri hijau,” jelas Riska.

Menurut Riska, pengenalan batik pewarna alami dan kerajinan pandan menjadi salah satu upaya memperlihatkan potensi industri hijau Jombang kepada masyarakat internasional. Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa kreativitas perajin lokal dapat dikembangkan dengan memperhatikan aspek lingkungan.
“Harapannya, agar Kabupaten Jombang go internasional dan bisa menunjukkan bahwa industri hijau bisa diterima di kalangan internasional, karena batik warna alam dan usaha industri yang lebih ramah lingkungan, saya yakin pasti bisa diterima di seluruh dunia,” jelasnya.
Melalui program WICA, Disdagrin Jombang berharap industri kreatif dan produk unggulan daerah semakin dikenal di tingkat internasional. Kunjungan mahasiswa dari Libya dan Timor Leste tersebut juga menjadi sarana pertukaran budaya sekaligus promosi potensi batik ramah lingkungan dan kerajinan lokal Jombang. [suf]






