YOGYAKARTA (Beritajatim.com)- Perubahan daya ingat pada orang lanjut usia kerap dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, ketika seseorang mulai menunjukkan perubahan perilaku, kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, atau mengalami penurunan kemampuan berpikir yang semakin mengganggu, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius karena bisa menjadi tanda demensia.
Anggapan bahwa demensia hanya bagian dari proses penuaan berisiko membuat gejalanya terlambat dikenali. Akibatnya, orang dengan demensia (ODD) tidak segera mendapatkan pemeriksaan yang tepat, sementara keluarga belum memiliki persiapan untuk menghadapi kebutuhan perawatan dalam jangka panjang.
Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., menjelaskan bahwa keluarga mempunyai peran penting dalam mengenali tanda-tanda awal demensia.
Menurut dia, orang terdekat biasanya menjadi pihak pertama yang menyadari adanya perubahan pada seseorang. Perubahan tersebut tidak selalu berupa sering lupa, tetapi juga dapat terlihat dari perilaku yang berbeda dibandingkan kebiasaan sebelumnya.
“Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” jelas Sri, Kamis (22/10/2026).
Karena itu, keluarga perlu memahami bahwa tidak semua kelupaan pada lansia menunjukkan demensia. Namun, perubahan kemampuan berpikir dan perilaku yang semakin mengganggu kehidupan sehari-hari perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui.
Jumlah Penderita Demensia Diperkirakan Terus Meningkat
Demensia menjadi tantangan kesehatan yang semakin besar seiring bertambahnya usia harapan hidup dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 55,2 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia pada 2019. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 139 juta orang pada 2050 jika mengikuti perkiraan global yang dikutip dalam bahan ini.
Di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, jumlah penderita diperkirakan mencapai 20,1 juta orang. Sementara itu, Alzheimer Indonesia memperkirakan jumlah penderita sindrom demensia di Indonesia mencapai 1,2 juta orang pada 2016 dan berpotensi meningkat menjadi empat juta orang pada 2050.
Besarnya proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah dalam menghadapi kebutuhan perawatan demensia.
Di Indonesia, tantangan penanganan juga berkaitan dengan belum tersedianya data nasional yang memadai untuk menggambarkan jumlah penderita secara menyeluruh. Padahal, informasi yang akurat dibutuhkan untuk menyusun kebijakan, memperluas layanan, serta menentukan kebutuhan tenaga kesehatan dan pendampingan bagi keluarga.
Sri menegaskan, deteksi dini menjadi langkah penting agar orang dengan demensia dapat memperoleh penanganan sesuai kondisinya. Pemeriksaan sejak awal juga memberi kesempatan bagi keluarga untuk memahami perjalanan penyakit dan mempersiapkan kebutuhan perawatan berikutnya.
Diagnosis Bukan Akhir dari Kehidupan
Demensia merupakan kondisi yang dapat berkembang secara progresif. Kemampuan seseorang bisa mengalami penurunan seiring waktu, meskipun kecepatan perkembangannya berbeda-beda pada setiap individu.
Meski demikian, diagnosis demensia bukan berarti seseorang harus kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Dukungan keluarga justru diperlukan agar ODD tetap terlibat dalam aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” ujar Sri.
Dalam perawatan demensia, terdapat caregiver informal dan caregiver formal. Caregiver informal meliputi anggota keluarga atau orang terdekat yang membantu kegiatan sehari-hari. Sementara itu, caregiver formal mencakup tenaga profesional, seperti dokter, perawat, dan ahli gizi.
Kedua kelompok tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. Keluarga dapat memberikan pendampingan sehari-hari, sedangkan tenaga kesehatan membantu menilai kondisi, memberikan edukasi, serta menentukan bentuk perawatan yang sesuai.
Keterlibatan ODD dalam kegiatan keluarga dan hobi yang masih dapat dilakukan juga penting untuk mempertahankan kemandirian serta kualitas hidupnya. Pendampingan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan individu, bukan semata-mata berfokus pada keterbatasan yang muncul.
## Keluarga Perlu Menyiapkan Perawatan Jangka Panjang
Salah satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah kebutuhan perawatan jangka panjang. Ketika demensia berkembang, seseorang mungkin semakin kesulitan melakukan kegiatan dasar, seperti mandi, makan, berpakaian, atau menggunakan toilet.
Dalam kondisi tertentu, ODD bahkan membutuhkan pengawasan sepanjang hari untuk menjaga keselamatan dan membantu aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, keluarga perlu membicarakan pembagian tanggung jawab perawatan sejak dini. Persiapan tersebut juga mencakup pembiayaan, ketersediaan pendamping, serta keinginan orang yang bersangkutan mengenai perawatan dan pengelolaan harta benda ketika masih mampu menyampaikan pilihannya.
Perencanaan sejak awal dapat membantu keluarga mengambil keputusan secara lebih terarah ketika kondisi ODD berubah. Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi beban keluarga yang sering kali harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perawatan yang semakin kompleks.
Selain dukungan emosional, lingkungan rumah juga perlu disesuaikan agar lebih aman dan mudah digunakan.
Perawat dapat membantu keluarga menentukan penyesuaian yang diperlukan. Misalnya, memasang tulisan atau penanda pada pintu toilet, meletakkan peralatan makan di tempat yang mudah terlihat, serta menyimpan benda tajam dan barang berbahaya di lokasi yang terkunci.
Penyesuaian sederhana tersebut dapat membantu ODD mengenali lingkungan dan mempertahankan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari selama masih memungkinkan.
Edukasi Demensia dan Layanan Kesehatan Perlu Diperkuat
Menurut Sri, tantangan utama dalam penanganan demensia di Indonesia adalah rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi tersebut.
Masyarakat perlu memperoleh informasi yang memadai tentang perbedaan antara kelupaan yang dapat terjadi seiring penuaan dan perubahan yang patut dicurigai sebagai gejala demensia. Pengetahuan ini penting agar keluarga tidak mengabaikan tanda-tanda yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Jadi, tantangan terbesarnya adalah awareness dulu. Semua orang perlu tahu demensia itu apa, gejalanya seperti apa, agar bisa membedakan yang penuaan normal itu seperti apa, yang mengarah ke demensia itu yang seperti apa,” terangnya.
Indonesia sebenarnya telah memiliki National Dementia Plan sejak 2016. Namun, Sri menilai implementasinya masih perlu diperkuat agar upaya penanganan tidak berhenti pada penyampaian informasi kepada masyarakat.
Edukasi perlu diikuti dengan informasi yang jelas mengenai tempat pemeriksaan, alur rujukan, dan layanan yang tersedia. Dengan demikian, keluarga yang menemukan gejala mencurigakan dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk memperoleh bantuan profesional.
Ketersediaan data nasional juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Sri menjelaskan bahwa penelitian mengenai demensia di Indonesia telah dilakukan, tetapi cakupannya belum cukup untuk menggambarkan situasi nasional secara menyeluruh.
“Angka demensia di Indonesia itu belum ada data yang jelas. Yang ada itu penelitian yang skalanya tidak terlalu besar dan juga hasil-hasil screening, di mana screening itu berbeda dengan diagnosis,” ungkapnya.
Hasil skrining dapat membantu mengidentifikasi orang yang perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, tetapi tidak dapat langsung disamakan dengan diagnosis demensia. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk menilai kondisi seseorang.
Selain memperkuat sistem pendataan, Indonesia perlu meningkatkan kesiapan layanan kesehatan dan keperawatan komunitas. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan ODD tidak hanya ditangani di fasilitas kesehatan, tetapi juga mendapat dukungan yang berkelanjutan di rumah dan lingkungan tempat tinggal.
Pencegahan Demensia Perlu Dimulai Sejak Muda
Upaya menghadapi demensia tidak cukup dilakukan ketika seseorang telah memasuki usia lanjut. Pengendalian faktor risiko perlu dimulai sejak usia muda melalui kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan otak dan jantung.
Sri mengacu pada penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian kasus demensia berpotensi dicegah atau ditunda melalui penanganan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Salah satu perkiraan yang sering digunakan dalam kajian pencegahan demensia menyebutkan bahwa hingga 40 persen kasus dapat dicegah atau ditunda dengan mengatasi faktor risiko tertentu. Angka ini merupakan estimasi populasi, bukan jaminan bahwa seseorang dapat terhindar dari demensia.
“Jadi, ternyata kasus demensia itu berdasarkan penelitian bisa dicegah hingga 40 persen jika sejak awal, early life, sudah melakukan pencegahan-pencegahan,” tuturnya.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain hipertensi, diabetes, serta kondisi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pengendalian tekanan darah dan gula darah menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh, termasuk mengurangi risiko yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif.
Pola makan juga perlu diperhatikan sejak masa kanak-kanak. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, kalori, dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan metabolik dan kardiovaskular. Karena itu, penerapan pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Sri mengingatkan bahwa menjaga kesehatan jantung juga berkaitan erat dengan upaya melindungi fungsi otak.
“Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak,” katanya.
Pada akhirnya, menghadapi demensia membutuhkan upaya yang berjalan beriringan, mulai dari pencegahan faktor risiko, pengenalan gejala sejak dini, pemeriksaan yang tepat, hingga kesiapan keluarga dalam memberikan perawatan jangka panjang.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat dan dukungan layanan kesehatan yang memadai, orang dengan demensia diharapkan tetap dapat menjalani kehidupan yang bermakna. Keluarga pun memiliki kesempatan lebih besar untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan kondisi tanpa mengabaikan kebutuhan, keselamatan, dan martabat orang yang mereka dampingi. [aje]






