Banyuwangi (beritajatim.com) – Tergiur harga tinggi, hasil melimpah dan raup untung banyak menghampiri sejumlah petani cabai rawit di Banyuwangi. Namun, mereka harus berjibaku dengan berbagai fakta di lapangan.
Mereka harus menghadapi tantangan pra tanam yang menjadi kendala utama. Pasalnya, saat ini hama keong dan bekicot menjadi momok mereka.
Betapa tidak, ratusan keong menghampiri setiap lahan pertanian cabai rawit di Banyuwangi yang siap ditanam. Alhasil, saat petani mulai menanam keong tersebut menyerang cabai rawit.
Akibatnya banyak cabai rawit yang batangnya luka dan patah. Sehingga, petani terpaksa mencabut dan harus mengganti dengan tanaman yang baru.
Kondisi ini menjadi tantangan nyata di tengah petani berjuang untuk meraup hasil. Namun, apa daya meraka harus keluar biaya lebih untuk pembelian bibit. Otomatis, biaya bibit akan membengkak dua kali lipat.
BACA JUGA:
Petani Cabai Rawit Banyuwangi Kaya Mendadak, Untung Segini
Kondisi ini seperti yang dialami oleh sejumlah petani di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Melihat fakta itu, para petani hanya bisa mengeluh.
Menurut petani, penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi di musim kemarau ini. Kondisi ini membuat perubahan yang signifikan pada lahan tanam dan memberi petaka tersendiri bagi para petani.
Muryani, salah satu petani di Dusun Selorejo menyebut tantangan musim tanam cabai rawit saat ini adalah keong dan bekicot. Serangan hama itu membludak di luasan 1 hektar lahan miliknya.
“Masa tanam tepat tanggal 29 kemarin, sebelum itu lahan sudah diolah dan dipastikan untuk menyingkirkan rumput, kalau ada keong dan bekicot juga dibersihkan. Tapi pas waktu itu masih panas,” jelas Muryani.
BACA JUGA:
Desain Bandara Internasional Banyuwangi Jadi Rujukan
Fakta ini memang diluar dugaan bagi para petani. Pasalnya, hujan deras dengan intensitas tinggi dan berlarut membuat mereka khawatir. Padahal, saat ini harusnya masuk musim kemarau.
“Sejak tanggal 28 itu sudah hujan. Tidak mungkin menunda awal tanam, karena hitung-hitungan hari tanam sudah ditentukan. Juga benih juga sudah harus tanam, kalau tidak nanti layu,” jelasnya.
Jelas, petani tahu mengenai risiko yang harus diterima saat hujan tiba. Kondisinya akan tidak baik dengan masa pertumbuhan. Rentan penyakit dan berpotensi gagal.
“Ditambah kok tiba-tiba ada keong dan bekicot begitu banyak. Kalau dibiarkan ya hancur tanamannya, terpaksa disuluh (diburu saat malam) lagi. Ya pasti keluar biaya lagi,” jelasnya.
Sebenarnya, jika tanaman cabai rawit di Banyuwangi berjalan normal mulai tanam hingga panen hasilnya lumayan. Hitung-hitungan kasar, seperempat hektar lahan tanaman cabai rawit bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta dalam semusim panen.
Misalnya, dalam seperempat hektare asumsi rata-rata dapat 100 kilo per sekali panen. Sementara dalam sebulan bisa panen 4 kali, sehingga hasil panen sekitar 400 kilo.
Selanjutnya dikalikan harga rata-rata Rp 20 ribu, petani cabai rawit di Banyuwangi bisa meraup hasil Rp8 juta sebulan. Kemudian, hasilnya tersebut dikalikan kembali dengan hasil selama setahun sehingga total hasil yang diraup mencapai Rp96 juta.
Bayangkan jika dengan luasan lahan 1 Hektare. Ya tinggal mengalikan saja, pasti akan ketemu hasilnya. [rin/beq]






