Banyuwangi (beritajatim.com) – Cabai rawit di Banyuwangi memang tak pernah hilang pesona. Petani sampai ketagihan harga jual tinggi dan hasil yang menggiurkan.
Memang tak dipungkiri, tuah manis hasil panen cabai rawit di Banyuwangi beberapa bulan belakangan sangat fantastis. Hitung-hitungan kasar, seperempat hektar lahan tanaman cabai rawit bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta dalam semusim panen.
Misalnya, dalam seperempat hektare asumsi rata-rata dapat 100 kilogram sekali panen. Sementara dalam sebulan bisa panen 4 kali, sehingga hasil panen sekitar 400 kg.
Selanjutnya dikalikan harga rata-rata Rp20 ribu per Kg, petani cabai rawit di Banyuwangi bisa meraup hasil Rp8 juta sebulan. Kemudian, hasilnya tersebut dikalikan kembali dengan hasil selama setahun sehingga total hasil yang diraup mencapai Rp96 juta.
Eits, tapi hasilnya itu dalam hitungan kotor. Masih harus dipotong biaya tanam, perawatan, dan buruh panen.
BACA JUGA:
Bandara Banyuwangi Bikin Iri Daerah Lain
Jika dibulatkan, dengan potongan dengan hitungan paling gampang, hasil setahun dipotong Rp16 juta untuk biaya di atas maka petani masih dapat Rp80 juta bersih. Bagaimana, menggiurkan bukan?
Sekali lagi catatan itu merupakan hasil rata-rata di lapangan. Pasalnya, ada juga fluktuasi harga di tingkat pedagang. Bisa naik dan bisa juga turun. Namun, dari beberapa pengamatan di lapangan harga cabai rawit di Banyuwangi rata-rata Rp20 ribu.
Menurut petani Desa Selorejo, Heri Siswanto mengakui jika semua berjalan normal, hasil itu memang tidak sulit. Tetapi, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi petani.
Seperti serangan hama saat tanam dan hama paska-tanam yang mesti dibasmi. Karena kondisi itu menjadi momok utama bagi para petani cabai rawit di Banyuwangi.
BACA JUGA:
Banyuwangi Tembus Jajaran 99 Inovasi Terbaik se-Indonesia
“Awalnya kan kering, kemudian jadi lembab. Pastinya banyak telur keong yang kemudian menetas. Siapa yang mengira kalau hujan terus seperti ini kan,” kata Heri.
Serangan keong biasanya menyerang saat tanam. Namun, antisipasi lainnya adalah hama pasca tanam.
“Ada serangan insect, ulat hingga jamur dan patek alias cacar. Cacar ini kalau petani nggak teliti bakal menyerang kapan saja apalagi di musim penghujan,” ungkapnya.
Hal di luar teknis juga mesti diperhatikan. Misal tiba-tiba terjadi hujan deras melanda lahan pertanian.
“Otomatis, jika banyak air akan tanaman cabai rawit juga akan layu dan mati,” pungkasnya. [rin/beq]






