Jember (beritajatim.com) – Kondisi geografis Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang luas dengan 248 desa dan kelurahan di 31 kecamatan memilikin potensi bisnis grosir penyediaan berbagai kebutuhan rumah tangga. Dagangan, sebuah perusahaan rintisan niaga elektronik dari Jogjakarta, menangkap peluang tersebut.
Dagangan mulai membuka bisnis di Jember pada akhir 2023 dan saat ini sudah menjangkau 21 kecamatan, yakni Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Jenggawah, Kalisat, Kaliwates, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumbersari, Umbulsari, dan Wuluhan.
Mereka sudah memasok barang kebutuhan sehari-hari, seperti sembako, untuk kurang lebih dua ribu warung desa. “Setiap mereka mengorder minimal Rp 400 ribu, kami bisa kirim barangnya dalam waktu satu kali 24 jam dari gudang kami ke daerah-daerah,” kata President & Co-Founder Dagangan Wilson Yanaprasetya, Selasa (13/8/2024).
Dagangan memfokuskan diri pada warga dan warung yang berlokasi kurang lebih lima kilometer hingga 30 kilometer dari pasar basah yang tidak buka setiap hari di sejumlah daerah terpencil. “Daripada mereka harus datang ke pasar dan menutup toko, kami antar barang-barangnya,” kata Wilson.
Jember dipilih karena pasokan barang di banyak kecamatan yang tidak konsisten. “Jadi kalau misalkan hari ini saya mencari minyak goreng di toko tertentu, mungkin minggu depan belum tentu ada lagi barangnya. Kalaupun ada, harganya mahal,” kata Wilson.
Dagangan melihat ketidakkonsistenan ini sebagai peluang. “Sebagai distributor langsung sejumlah produk ternama, kami mendapatkan harga yang cukup bersaing dibandingkan yang lain. Maka itu kami masuk ke kota seperti Jember ini, karena kami potensinya besar. Banyuwangi kami belum masuk,” kata Wilson.
Dagangan memposisikan pelanggan sebagai rekanan bisnis dengan memberikan saran-saran yang menguntungkan. “Misalkan kami tahu ada kecenderungan harga sebuah komoditas turun pada minggu depan, kami akan menyarankan kepada pelanggan untuk menunda pembelian agar mendapatkan barang dengan harga lebih murah,” kata Wilson.
Dengan model bisnis seperti ini selama lima tahun, Dagangan telah mendorong digitalisasi di lebih 20 ribu desa di Jawa melalui efisiensi distribusi rantai pasok kebutuhan sehari-hari ke lebih dari 100 ribu pelaku usaha mikro kecil menengah, termasuk pedagang pasar dan pemilik warung. [wir]






