Jombang (beritajatim.com) – Jusiati (66) duduk di atas selembar busa warna oranye yang menghampar. Busa bantuan dari Dinsos (Dinas Sosial) itulah yang ia pakai untuk alas tidur selama empat hari terakhir ini.
Tubuhnya, dibalut daster coklat. Jusiati asyik bercengkrama dengan para tetangganya, seorang pria dan dua perempuan muda. Mereka berbicara panjang lebar tentang bencana banjir yang mengepung desanya.
Karena banjir itu pula, Jusiati dan warga lainnya harus terusir dari rumahnya di Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang. Mereka mengungsi ke Balai Desa Jombok. Jusiati adalah pengungsi gelombang pertama.
Dia bersama sang suami, Sunadi (68) serta, serta seorang cicit. Maklum saja, rumah yang selama ini mereka tinggali sudah disergap air setinggi dada. Tak ada jalan lain, ibu dua anak ini harus mengungsi agar selamat dari todongan bencana.
Jusiati dan Sunadi tak membawa apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Ya, pada Sabtu (7/12/2024) sekitar pukul 22.00 WIB, Jusiati kaget karena air terus naik hingga setinggi dada. Tetangganya mendatangi Jusiati dan Sunadi untuk diajak mengungsi.
Malam itu juga Jusiati keluar dari rumah. Perahu karet warna oranye yang disediakan oleh BPBD (Badan penanggulangan Bencana Daerah) Jombang sudah menjemputnya di depan rumah. Dalam kondisi gelap gulita pasutri ini naik perahu dengan hati-hati. Dusun Beluk sudah berubah menjadi ‘kolam raksasa’.
Dari atas perahu mereka menyusuri banjir. Pada jarak 1,5 kilometer. Jusiati dan Sunadi turun dan perahu itu. Pasalnya, pada Jarak tesebut banjir hanya setinggi lutut. Namun untuk menuju Balai Desa Jombok masih sejauh 2 kilometer lagi.
Turun dari perahu, keduanya berpindah naik ambulans desa. Kali ini Jusiati tidak sendiri. Di ambulans desa sudah ada tetangga yang senasib dengan dirinya. Malam itu juga Jusiati dan sang suami tidur di tempat pengungsian Balai Desa Jombok.
“Saya dan keluarga pengungsi gelombang pertama yang dievakuasi. Yakni Sabtu malam kemarin. Karena rumah saya merupakan titik banjir terparah, tepatnya Dusun Beluk sebelah timur. Dekat kuburan,” kata ibu dua anak ini.
Kulkas, Televisi dan ‘Spring Bad’ Mengapung

Saat meninggalkan rumah, hanya satu yang ada di pikiran Jusiati; nyawanya dan keluarga selamat. Makanya mereka tidak sempat menyelamatkan barang berharga. Hanya baju menempel di badan, itu pun kondisinya sudah basah.
Keesokan harinya, Jusiati menyambangi rumah yang ditinggalkan. Tujuannya, untuk menyelamatkan barang-barang berharga miliknya. Namun semuanya sudah terlambat. Jusiati mengintip dari pintu rumahnya yang sederhana.
Nah, dari situlah dia melihat dua unit televisi miliknya sudah ‘berenang’ di air. Lalu, spring bad yang biasa ia gunakan tidur sudah mengambang seperi perahu. Senasib dengan sebuah kulkas di ruang tengah. Terendam air.
Meja dapur tempatnya menyimpan beras juga ludes tak tersisa. “Di situ ada beras satu kwintal. Semuanya ludes terkena banjir. Hewan ternak seperti ayam dan itik entah kemana. Sebelum banjir, hewan itu di kendang. Tapi sekarang hilang,” katanya.
Satu-satunya harta yang bisa diselamatkan oleh Jusiati adalah selembar sertifikat tanah. Beruntung, sertifikat itu disimpan di lemari bagian atas. Sehingga tidak terjangkau oleh kepungan banjir.
Jusiati mengambil kursi untuk pijakan mengambil serttifikat itu. Pintu lemari berderit, Jusiati menjerit gembira. Selembar harta tersebut masih utuh. Dia buru-buru menyelamatkannya. Dibawanya sertifikat tersebut ke tempat mengungsi.
Banjir Belum Surut, Evakuasi Warga Berlanjut

Hingga lima hari berlalu, Rabu (11/12/2024), banjir di Dusun Beluk Desa Jombok belum juga surut. Air masih menggenangi ratusan rumah warga. Dusun Beluk sisi timur paling parah, yakni setinggi dada. Sedangkan sisi barat dan selatan setinggi lutut.
Ambulans desa masih bolak-balik untuk mengevakuasi warga dari rumahnya menuju ke pungungsian. Jaraknya, sekitar 3 kilometer. Praktis, Dusun Beluk semakin sepi penghuni. Dusun ini tak ubahnya seperti kampung mati.
Kepala Dusun (Kasun) Beluk Sistyo Budianto mengatakan bahwa banjir tersebut berasal dari luapan Afvour Watudakon. Banjir yang menerjang Dusun Beluk sudah memasuki hari kelima. Seiring dengan itu, banjir terus meninggi.
Hingga akhirnya warga mengungsi ke balai desa. Selain itu, warga juga mengungsi ke saudaranya. Kasun menyebut terdapat 334 KK (kepala keluarga). Sedangkan jumlah warga sekitar 900 orang lebih.
Dari jumlah itu, 50 persen warga sudah mengungsi. Selebihnya, masih bertahan guna menjaga rumah mereka. Seluruh rumah di Dusun Beluk semuanya terdampak. Ini hari kelima. Air belum surut,” ujar Kasun Beluk.
Kebutuhan Pengungsi Terjamin

Di pengungsian yang merupakan Balai Desa Jombok, Jusiati dan suami tidak sendiri. Tapi ada puluhan warga lainnya. Segala kebutuhan mereka terjamin. Mulai makan, air minum, MCK (mandi cuci kakus), semuanya lengkap.
Bahkan para pengungsi juga mendapatkan baju untuk ganti. Untuk yang laki-laki juga mendapatkan sarung, celana pendek, serta baju. Bukan hanya itu, mereka juga mendapatkan celana dalam. Sedangkan untuk anak balita disediakan celana popok atau pampers.
Seperti pada Rabu (11/12/2024) pagi. Suasana pengungsian sudah menggeliat. Para lansia masih terlelap dengan selimut warna oranye. Ibu-ibu sudah beraktivitas di kamar mandi. Ada juga yang bergerombol sembari mengobrol, termasuk Jusiati.
Oboralan yang panjang lebar itu akhirnya mengerucut pada satu harapan bersama: Banjir segera surut, bencana segera sirna. [suf]






