Jember (beritajatim.com) – Muhammad Balya Firjaun Barlaman, calon wakil bupati petahana nomor urut 1, menegaskan posisi Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagai produsen kopi robusta di Indonesia. Sementara Djoko Susanto, calon wakil bupati nomor urut 2, menyebut potensi kopi Jember mencapai triliunan rupiah.
Hal ini terungkap dalam debat perdana antarkandidat yang digelar Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, Jawa Timur, di New Sari Utama Ballroom, Sabtu (26/10/2024) malam. Dua pasangan kandidat yang berhadapan adalah pasangan petahana Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman diusung PDI Perjuangan, dan Muhammad Fawait berpasangan dengan Djoko Susanto dan diusung koalisi Gerindra, PKB, PKS, Nasdem, Golkar, PPP, dan PAN.
Tema debat perdana ini adalah Penguatan Pembangunan dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Kabupaten Jember. Ada lima subtema yang diambil, yakni kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, keberlanjutan ekologi dan energi, dan pengangguran maupun lapangan pekerjaan. Namun komoditas kopi menjadi perbincangan hangat dibandingkan komoditas pertanian lainnya.
Djoko Susanto mengatakan, potensi kopi dari lahan kehutanan sosial saja sudah mencapai Rp 8,5 triliun. “Tentu ini potensi sangat besar. Cuma sayangnya Jember sampai hari ini juga tidak mengelola hasil panen itu. Tapi pengolahannya justru diambil Malang,” katanya. Djoko menyayangkan hal tersebut.
Djoko ingin melibatkan pesantren dalam memperkuat budidaya kopi. Salah satu daerah yang menghasilkan kopi rakyat adalah Kecamatam Silo. Menurutnya, seharusnya pemerintah daerah memfasilitasi pesantren untuk dapat mengelola atau mengolah kopi di Kecamatan Silo.
Firjaun Barlaman prihatin dengan pernyataan Djoko soal kopi Jember diolah di Malang. “Ini rasanya memandang dengan sebelah mata warga Jember yang memiliki kemampuan untuk mengelola kopi,” katanya.
Menurut Firjaun, sudah cukup banyak warga Jember yang mengolah kopi. “Jadi, saya kira informasi bahwa kopi dikelola di Malang, barangkali perlu direvisi. Saya mohon maaf kepada pengusdaha-pengusaha kopi di Jember atas pernyataan, bahwa kopi dikelola di Malang. Jember kota kopi robusta Indonesia, Ini harus dipahami,” katanya.
Namun Firjaun satu kata dengan Djoko dalam hal pemberdayaan santri. “Bukan hanya mengelola, tapi dibekali ilmu. Mutlak ilmu diperlukan. Karena itu mengajari santri keterampilan-keterampilan untuk mengelola dan memberdaykan diri sendiri dan pesantren dalam rangka ketahanan pangan di Kabupaten Jember,” katanya. [wir]






