Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto merilis data terbaru tingkat kemiskinan per Maret 2025.
Persentase penduduk miskin tercatat 8,79 persen atau setara 102,67 ribu jiwa. Angka ini menurun dibandingkan Maret 2024 yang mencapai 9,37 persen, dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 108 ribu orang.
Meski persentase kemiskinan turun, Garis Kemiskinan (GK) justru meningkat. Pada Maret 2025, GK mencapai Rp 526.397 per kapita per bulan, naik Rp 17.779 dari tahun sebelumnya.
Artinya, satu rumah tangga miskin dengan rata-rata 4,29 anggota harus menyiapkan sedikitnya Rp 2,25 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny menegaskan bahwa angka penurunan ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi lapangan.
Hal itu terlihat dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang meningkat. P1 naik dari 1,01 menjadi 1,48, sedangkan P2 dari 0,19 menjadi 0,35.
“Indeks ini menunjukkan bahwa kelompok masyarakat miskin semakin sulit keluar dari jerat kemiskinan karena jarak pengeluaran mereka dengan garis kemiskinan makin lebar. Secara historis, angka kemiskinan Mojokerto berfluktuasi selama satu dekade terakhir,” ungkapnya, Senin (15/9/2025).
Tren menurun tercatat sejak 2015, namun sempat melonjak pada 2020–2021 akibat pandemi Covid-19. Sementara pada 2023, kenaikan harga kebutuhan pokok imbas naiknya harga BBM juga sempat menambah jumlah warga miskin. Faktor pendorong penurunan tahun ini antara lain pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto yang stabil.
“Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto stabil di angka 5,01 persen pada triwulan I-2025 serta efektivitas program bantuan sosial. Bantuan pangan, sembako, dan program perlindungan sosial lainnya mampu menjaga konsumsi masyarakat miskin sehingga menekan angka kemiskinan,” tambahnya. [tin/ted]






