Gresik (beritajatim.com)- Wildan Bahriza eks narapidana teroris (Napiter) yang bertempur bersama kelompoknya ISIS di negara Suriah menceritakan masa kelamnya di tahun 2010. Di negara sedang dilanda perang itu, Wildan pernah menjadi sniper sekaligus perakit bom yang handal.
Namun masa kelamnya berakhir di tahun 2014. Pria asal Pasuruan itu, memilih pulang ke Indonesia. Pasalnya, jalan yang dipilih salah. Kini Wildan lebih banyak diundang menjadi pembicara. Salah satunya dihadapan perwira Polri dan tokoh agama di Mapolres Gresik.
Dengan gaya bicara yang berapi-api, Wildan sadar jalan kelam yang pernah dipilihnya tidak sesuai keyakinan agama yang dianutnya.
“Saya sadar, apa yang saya jalani bukanlah perjuangan, melainkan jalan yang menjerumuskan. Ekstremisme justru banyak menyasar anak muda dengan kondisi rapuh, broken home, haus pengakuan, atau salah dalam memilih pergaulan,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
Wildan menyebut tanda-tanda awal radikalisasi sangat sederhana. Hal ini ditandai dengan perubahan sikap, menjauh dari keluarga dan lingkungan, hingga munculnya anggapan bahwa semua orang yang berbeda adalah musuh.
“Saat itu biasanya terjadi, segera waspada. Itu awal jebakan radikalisme,” ungkapnya.
Kini, Wildan menjalani kehidupan berbeda. Ia bekerja sebagai barista, menulis buku, dan sering menjadi dosen tamu. Di berbagai forum, ia membagikan pengalamannya agar generasi muda tidak mengulang kesalahannya.
“Data UNDP 2019 jelas menunjukkan, radikalisme banyak berakar dari keluarga bermasalah, pemahaman agama yang keliru, dan faktor sosial-ekonomi,” paparnya,
Sementara itu, Kabag Penum Divhumas Mabes Polri Kombespol Erdi A. Chaniago menuturkan, kaum muda merupakan sasaran empuk kelompok radikal.
“Tujuan kami hadir di sini adalah untuk memberi peringatan. Aksi radikal sangat berbahaya bagi ketertiban masyarakat. Generasi muda, terutama santri, harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial,” tuturnya.
Hal senada juga dikemukakan Wakapolres Gresik Kompol Danu Anindhito Kuncoro. Menurutnya, paham radikalisme tak mengenal golongan. Untuk itu, dirinya menghimbau peran lingkungan keluarga sangat penting dalam menangkal paham ini.
“Dunia digital sekarang sangat bebas. Siapapun bisa memanfaatkan tapi tetap berhati-hati karena paham radikalisme biasanya menyasar anak muda,” urainya.
Diskusi forum ini selain diikuti sejumlah perwira Polri. Juga diikuti perwakilan tokoh agama dari MUI, NU, Muhamadiyah, LDII, FKUB hingga pengasuh pondok pesantren di Gresik. [dny/aje]






