Ringkasan Berita:
- Beras SPHP, MinyaKita, dan elpiji 3 kilogram menjadi komoditas paling diminati masyarakat di KDMP Kabupaten Blitar.
- Stok barang bersubsidi dilaporkan cepat habis, bahkan dalam hitungan jam.
- Sebanyak 72 gerai KDMP telah beroperasi di Kabupaten Blitar, dengan sembako bersubsidi menjadi barang yang paling laku.
- Pasokan beras SPHP berasal dari Perum Bulog, sedangkan elpiji 3 kilogram mengandalkan distribusi Pertamina Patra Niaga.
Blitar (beritajatim.com) – Barang kebutuhan pokok bersubsidi kerap ludes dalam hitungan jam di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kabupaten Blitar. Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), MinyaKita, hingga elpiji 3 kilogram menjadi komoditas yang paling diburu masyarakat. Tingginya permintaan membuat stok di sejumlah gerai cepat habis dan kerap kosong.
Berdasarkan pantauan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Blitar, keterbatasan stok komoditas bersubsidi terjadi di hampir semua KDMP yang telah beroperasi. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap kebutuhan pokok yang harganya terjangkau.
Darmadi mengatakan, komoditas yang paling diminati konsumen saat ini masih didominasi barang kebutuhan pokok yang mendapat dukungan pemerintah, terutama beras SPHP, MinyaKita, dan elpiji.
“Itu masih sangat dinamis ya. Komoditas yang paling favorit itu ini yakni beras SPHP, sama MinyaKita, dan LPG. Komoditas yang ada subsidi dari pemerintah itu paling diminati oleh konsumen,” ujar Darmadi pada Senin (26/10/2026).
Jumlah KDMP yang telah beroperasi di Kabupaten Blitar mencapai 72 gerai. Di gerai-gerai tersebut, sembako bersubsidi seperti beras, minyak goreng, dan elpiji menjadi komoditas yang paling banyak dibeli masyarakat.
Tingginya permintaan membuat persediaan barang di koperasi tidak bertahan lama. Bahkan, stok sejumlah komoditas dilaporkan habis setelah dijual kepada konsumen.
“Langsung habis, bahkan kehabisan stok menurut saya,” tegas Darmadi.
Cepat habisnya barang bersubsidi tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas dengan harga terjangkau. Keberadaan KDMP menjadi salah satu saluran bagi warga untuk mendapatkan kebutuhan pokok, terutama komoditas yang pasokannya berkaitan dengan program pemerintah.
Dari sisi distribusi, pasokan beras SPHP disalurkan melalui Perum Bulog. Sementara itu, kebutuhan elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon mengandalkan rantai distribusi Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga.
Darmadi menjelaskan bahwa kedua komoditas tersebut berasal dari jalur distribusi yang berbeda.
“Karena kan kelas SPHP itu kan dari Bulog ya namanya kita. Terus LPG itu dari mana stoknya? LPG dari ini Pak, dari Patra,” jelas Darmadi.
Kondisi tersebut memperlihatkan peran KDMP sebagai salah satu saluran distribusi kebutuhan pokok di tingkat desa. Tingginya minat masyarakat terhadap beras SPHP, MinyaKita, dan elpiji 3 kilogram membuat ketersediaan stok menjadi faktor penting agar warga tetap dapat mengakses komoditas tersebut.
Di sisi lain, cepat habisnya persediaan menimbulkan pertanyaan mengenai kecukupan pasokan dan pola distribusi di setiap gerai. Namun, tingginya permintaan belum dengan sendirinya membuktikan adanya kekurangan kuota distribusi. Kepastian penyebab stok cepat habis perlu didukung data pasokan, jumlah barang yang diterima setiap gerai, serta frekuensi pengiriman ulang dari pemasok.
Dengan 72 gerai yang telah beroperasi, ketersediaan barang bersubsidi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga fungsi KDMP sebagai saluran pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat Kabupaten Blitar. [owi/beq]






