Ringkasan Berita:
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan penanganan karhutla secara maksimal dengan mengutamakan keselamatan petugas.
- Khofifah meninjau kawasan Gunung Arjuno untuk memastikan kesiapan personel dan ketersediaan alat pelindung diri (APD).
- Pemprov Jatim bersinergi dengan BNPB dan BMKG melalui pemadaman udara menggunakan water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
- Pemulihan psikologis petugas di kawasan Bromo Tengger Semeru turut menjadi perhatian, sementara masyarakat diimbau tidak membakar sampah dan jerami.
Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara maksimal atau all out. Keselamatan petugas yang terlibat dalam upaya pemadaman menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur di tengah penanganan kebakaran di sejumlah kawasan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, Khofifah turun langsung ke kawasan Gunung Arjuno untuk memastikan kesiapan personel dan ketersediaan alat pelindung diri (APD). Langkah tersebut dilakukan agar petugas memiliki perlengkapan yang memadai saat menjalankan tugas di lapangan.
“Beliau langsung ke Gunung Arjuno memastikan semua personel kita punya ketersediaan alat. APD itu penting ya, jangan sampai ada korban; keselamatan petugas adalah nomor satu,” tegas Emil kepada wartawan, Senin (26/10/2026).
Menurut Emil, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada upaya pemadaman, tetapi juga mencakup perlindungan fisik dan pemulihan kondisi psikologis petugas. Khusus di kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS), Pemprov Jatim menyiapkan program pemulihan psikososial atau post-trauma bagi personel yang membutuhkan pendampingan.
Berdasarkan evaluasi tim di lapangan, sejumlah petugas disarankan beristirahat dan menjalani pemulihan psikis setelah kehilangan rekan seperjuangan saat bertugas. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi personel yang menghadapi situasi berat selama penanganan karhutla.
Selain mengoptimalkan penanganan di darat, Pemprov Jatim memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Upaya tersebut meliputi pemadaman melalui udara menggunakan helikopter dengan metode water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Khofifah mendampingi Kepala BNPB meninjau penanganan kebakaran melalui udara dan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Kedua upaya tersebut diharapkan membantu menekan penyebaran api dan mendukung proses pemadaman di wilayah terdampak.
Emil mengatakan, pelaksanaan OMC mulai menunjukkan hasil. Meski demikian, keberhasilan operasi tersebut bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memungkinkan proses penyemaian dilakukan.
“Operasi modifikasi cuaca sudah mulai kelihatan hasilnya. Enggak semua OMC berhasil karena tergantung kondisi awannya betul-betul bisa disemai atau tidak. Untuk water bombing, kita berterima kasih akhirnya diizinkan mengakses armada, bukan saja untuk karhutla skala besar, tetapi juga untuk memadamkan titik-titik api sekecil apa pun,” jelas Emil.
Di tengah penanganan karhutla, Emil juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Ancaman api tidak hanya berada di kawasan hutan, tetapi juga dapat merambah permukiman dan lahan pertanian.
Masyarakat diminta menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun jerami sisa panen di ladang. Aktivitas tersebut berisiko memicu kebakaran yang dapat meluas, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.
Pemprov Jatim juga mengambil langkah pencegahan melalui penutupan sementara jalur pendakian yang rawan karhutla. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus mengurangi risiko munculnya sumber api di kawasan hutan.
Mengenai perdebatan penggunaan korek api sebagai bagian dari perlengkapan bertahan hidup atau survival kit pendaki, pemerintah masih merumuskan solusi dan regulasi yang aman.
“Untuk sementara waktu, jalur pendakian yang rawan kita tutup dulu demi keselamatan bersama,” tambah Emil.
Emil turut menyampaikan terima kasih atas dukungan doa dari masyarakat dan para pemuka agama untuk penanganan karhutla di Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa upaya pemadaman melalui jalur darat dan udara terus dimaksimalkan, dengan harapan kondisi cuaca turut mendukung proses penanganan.
“Jangan kita berpikir OMC ini sukses semata-mata karena teknologinya yang canggih, tetapi juga karena Yang Maha Kuasa mengizinkan turunnya hujan. Semua ikhtiar di darat dan udara kita maksimalkan, dan tentunya kita berharap restu serta pertolongan dari Yang Maha Kuasa,” pungkasnya. [tok/beq]






