Anies Rasyid Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar sesungguhnya tengah melakukan pertaruhan. Mereka mencoba membongkar stigma negatif berupa pragmatisme politik pada diri pemilih di Indonesia.
Penulis: Oryza A. Wirawan
Menjelang hari coblosan 14 Februari 2024, Partai Gerindra mengingatkan kepada seluruh warga untuk menjaga persatuan dan mengedepankan persaudaraan dibanding perbedaan pilihan politik.
“Demokrasi Indonesia harus berubah. Demokrasi harus berisi gagasan untuk dilaksanakan. Demokrasi harus berisi ide-ide yang diuji lalu dikerjakan. Karena itu kami memilih seperti ini.”
Kurang lebih 500 orang pendukung calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka memadati double way GOR Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (9/2/2024) malam, dalam acara Pesta Gemoy.
Desak Anies’, sebuah kampanye dialogis yang dilaksanakan calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan, berakhir di gedung DBL Arena, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Tiimur, Jumat (9/2/2024) malam. Belasan ribu orang bersama-sama menyanyikan lagu ‘Buruh Tani’ yang biasa dinyanyikan para demonstran gerakan 1998.
Partai Demokrat berharap meraih trisukses di Jawa Timur dalam tahun pemilu ini, yakni memperoleh kursi perwakilan parlemen semaksimal mungkin, memenangkan pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan presiden, dan memenangkan pasangan Khofifah Indar Parawansa – Enil Dardak dalam pemilihan gubernur.
Partai Persatuan Pembangunan menargetkan penambahan kursi di DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan mengembalikan kursi DPR RI di Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang. Hal ini dikemukakan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy, usai kampanye akbar di GOR PKPSO Jember, Kamis (8/2/2024).
Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy percaya, pemilihan presiden akan berlangsung dua putaran, berbeda dengan hasil survei sejumlah lembaga yang meramalkan satu putaran.
Pertandingan Persebaya melawan Bhayangkara sejatinya adalah derby sesungguhnya. Saya menyebutnya Derby of History atau Derby of Identity.
“Film Yang (Tak Pernah) Hilang ini harus dilihat dalam konteks sejarah masa depan, bagaimana peradaban dibangun dengan sebuah tanggung jawab, kejujuran, keterbukaan, yang sampai hari ini absen.”









