Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memperkirakan partisipasi pemilih meningkat dalam pemilu kali ini.
Penulis: Oryza A. Wirawan
Usai mencoblos, Bupati Hendy Siswanto langsung meninjau sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan mengenakan seragam oranye Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Rabu (14/2/2024).
Bupati Hendy Siswanto dan istrinya yang juga Ketua Tim Pembina PKK Kasih Fajarini kompak berbusana serba putih, saat menggunakan haknya alias nyoblos, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 37, di Jalan Kenanga II, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (14/2/2024).
Mustakim, perangkat Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal tersengat listrik, saat mempersiapkan coblosan di Tempat Pemungutan suara,(TPS) 035, Rabu (14/2/2024).
Surat suara calon legislator DPRD Kabupaten Jember Daerah Pemilihan 1 nyasar ke Daerah Pemilihan 6, saat coblosan, Rabu (14/2/2024). Caleg merasa dirugikan.
Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Tempat Pemungutan Suara Nomor 21, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, membagikan kue cokelat untuk pemilih yang datang untuk menggunakan hak, Rabu (14/2/2024).
Apa kabar penanganan kasus dugaan tindak pidana pemilu dalam acara apel salawat yang menghadirkan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka oleh Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jawa Timur?
Tak mudah bagi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mencopot alat peraga kampanye (APK) peserta pemilu selama masa tenang, 11 – 13 Februari 2024. Sejumlah petugas mengalami nahas saat menertibkan APK berupa baliho, bendera, sampai spanduk, mulai dari disengat lebah sampai mengalami kecelakaan lalu lintas.
“Upaya paling cerdas dan bermartabat menghentikan praktik politik uang adalah dengan cara mengedukasi dan budayakan literasi politik secara dialogis. Tujuannya menumbuh-suburkan nalar kritis rakyat dalam berdemokrasi.”
“Sebagian besar dari pemerintah setidaknya melakukan kampanye pemilu, dan memang demikian secara retoris berkomitmen untuk mengizinkan warga negara memberikan suara untuk memilih pemimpin yang akan memerintah mereka. Namun, di banyak tempat, pilihan tersebut tidak banyak lebih dari sekadar ilusi: kontes ini dicurangi sejak awal.”









