Surabaya (beritajatim.com) – Sejak Agustus 2023, calon presiden Anies Baswedan menggelar kampanye Desak Anies, sebuah kampanye dialogis di sejumlah kota di Indonesia. Total 22 kali Desak Anies dilaksanakan selama 74 hari masa kampanye, diawali di Jakarta pada Agustus 2023, diakhiri di DBL Arena Surabaya, Jumat (9/2/2024) malam.
Di pengujung Desak Anies Surabaya, Anies memberikan refleksi terhadap perjalanannya sejak Agustus berkunjung ke banyak tempat dan bertemu banyak orang. “Selama perjalanan 1,5 tahun, Gus Imin dan saya berkeliling bertemu begitu banyak orang. Semua datang dalam setiap kegiatan kami, tidak mengharapkan bekal material. Tapi semua datang mengharapkan ada perubahan,” katanya.
“Selama proses ini kami melihat aspirasi-aspirasi tulus, yang semua ingin Indonesia lebih baik. Dan kita melihat untuk melakukan, kesempatan itu ada. Kami memilih model Desak dan Gus Imin dengan model Slepet, polanya dialog,” kata Anies.
Menurut Anies, semua peserta Desak Anies dan Slepet Imin bebas bertanya. Satu-satunya batasan adalah durasi waktu acara. “Tapi tidak dibatasi tema, boleh apa saja. Kenapa? Karena kami percaya republik ini untuk maju dan berkembang harus memberikan ruang kebebasan berbicara kepada semuanya. Dan ruang kebebasan itu dimulainya dari saat berkampanye,” katanya.
“Apakah pola seperti ini berisiko? Ya. Tadi dikatakan: ‘Pak Anies, kalau sekarang ada Desak Anies, nanti kami menuntut ada Tagih Anies. Kalau pun bukan Tagih atau yang lain-lain, pertanyaan itu dijawab dan jawaban menjadi komitmen untuk dikerjakan,” kata Anies.
“Kalau kita berada di wilayah politik, paling enak tidak membuat komitmen apa-apa. Paling enak dapat dukungan tanpa syarat. Paling enak dapat dukungan tanpa menyatakan apa yang akan dikerjakan. Tapi kami melihat, demokrasi Indonesia harus berubah. Demokrasi harus berisi gagasan untuk dilaksanakan. Demokrasi harus berisi ide-ide yang diuji lalu dikerjakan. Karena itu kami memilih seperti ini,” kata Anies.
Ide Desak Anies dan Slepet Imin memiliki keterkaitan kuat dengan latar belakang Anies dan Muhaimin sebagai mantan aktivis mahasiswa. Anies adalah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam, dan Muhaimin adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
“Kami berdua tidak tumbuh dari lingkungan yang mengisolasi diri. Kami tumbuh dari lingkungan aktivis-aktivis mahasiswa yang mneneruskan perjuangannya sampai ke jalur politik seperti sekarang. Kami bukan yang mengisolasi diri. Kami tumbuh dalam aktivisme mahasiswa. Dan itu yang terus dijaga hingga sekarang,” kata Anies.
“Karena itu bagi kami, mendengar pandangan yang berbeda, adalah mengasah pikiran kita bersama. Saya sering sampaikan, lawan debat adalah teman berpikir. Lawan bicara adalah teman berpikir. Dan ketika kita mendengar pendapat yang berbeda, ungkapannya boleh lantang dan lugas, tapi sesungguhnya yang berdiskusi sama-sama mencintai Indonesia, sama-sama menginginkan Indonesia yang lebih baik,” kata mantan mahasiswa Universitas Gajah Mada ini.
“Dan saya menemukan acara Desak Anies ini acara sukarela. Saya merasa berjumpa dengan orang-orang muda, khususnya yang memiliki kecintaan kepada republik ini tanpa syarat. Cinta pada Indonesia tanpa syarat, dan hanya ingin kita lebih maju, kita lebih baik,” kata Anies.
“Kapan ada antrean panjang untuk berpikir bersama? Kapan ada antrean panjang untuk memikirkan Indonesia bersama? Kapan ada antrean panjang untuk mengatakan: kami ingin perubahan Indonesia yang lebih baik? Di acara Desak Anies, antrean panjang bukan untuk hiburan, tapi untuk perubahan. Dan ini semua mewakili masa depan Indonesia,” kata Anies.
“Semoga apa yang sudah kita kerjakan bersama-sama, menjadi faktor pengubah kualitas demokrasi kita. Saya yakin ke depan makin banyak yang harus mengungkapkan gagasan ketika masuk wilayah politik,” kata mantan Rektor Universitas Paramadina ini.
Tidak ada yang tahu pasti hasil pemilihan presiden pada 14 Februari 2024. “Tapi satu hal yang pasti: Anda, kita, saya, semua yang hadir telah melakukan perubahan dalam kampanye di republik ini. Kita sama-sama mengubah dan kita bagian dari perubahan itu,” kata Anies.
“Kami yakin ke depan torehan sejarah ini akan membekas. Kita membuka jalan baru. Kita membuka rute baru. Rute ini penuh tantangan, rute ini penuh cobaan. Tapi kita tahu, rute mendaki, rute terjal,. akan mengantarkan kita ke puncak-puncak baru keberhasilan,” tegas Anies.
Anies kemudian memuji kerja tim Ubah Bareng, yang mengoordinasi dan menggelar acara Desak Anies. “Desak Anies tidak terjadi, tidak hebat karena yang duduk di panngung. Yang membuat Desak Anies hebat adalah mereka yang datang dan membuat acara ini luar biasa. Yang datanglah yang menentukan, (dan) mereka yang bekerja di belakang layar,” katanya.
Anies mengapresiasi anak-anak muda yang bergerak menyiapkan Desak Anies. “Siapa mereka? Namanya Ubah Bareng,. anak-anak muda yang tak nampak di depan latar. tapi yang ,membuat perubahan ini terjadi,” katanya.
Terakhir, Anies meminta semua pendukung mendoakannya dan Muhaimin. “Kita saling mendoakan dan kita saling mengikhtiarkan. Doakan kami bisa amanah. Doakan kami bisa istiqomah. Doakan kami bisa konsisten, dan mari berjuang bersama-sama untuk Indonesia yang adil makmur bagi semua,” katanya.
“Yang nantinya kita semua bisa mensyukuri, kita menjadi bagian yang menguatkan republik ini. Kita bukan bagian yang menggerogoti dan mengeroposkan republik ini. Dan kita tidak pernah jadi benalu di republik ini,” kata Anies. [wir]






