Kemenangan Persebaya 1-0 atas Bhayangkara Presisi Indonesia tak ubahnya sebuah hikayat epik di Gelora Bung Tomo Surabaya pada Ahad (4/2/2024) sore. Kemenangan ini mengakhiri paceklik kemenangan sejak 23 September 2023.
Gol yang dicetak pada menit 54 juga menjadi gol perdana Paulo Henrique yang selama ini diragukan kemampuannya oleh Bonek. Gol itu dirayakan dengan gesture seorang petarung di hadapan tribun utara: melepas jersey dan berteriak kencang.
Bagi sebagian besar penggemar sepak bola, termasuk Bonek, kemenangan Persebaya atas Bhayangkara bukanlah sesuatu yang istimewa. Bhayangkara saat ini berada pada posisi juru kunci. Dengan hanya mengemas 15 angka dari 24 pertandingan, klub yang identik dengan kepolisian ini susah keluar dari zona degradasi. Kedatangan mantan pemain AS Roma, Radja Nainggolan, tak banyak mengangkat performa buruk tim ini.
Namun pertandingan Persebaya melawan Bhayangkara sejatinya adalah derby sesungguhnya. Saya menyebutnya Derby of History atau Derby of Identity. Dalam sepak bola, rivalitas derby dibentuk karena adanya alasan-alasan historis, sosiologis, politis, dan atau ideologis. Persebaya dan Bhayangkara memenuhi semua syarat untuk disebut rivalitas derby.
Kurang lebih sepuluh tahun silam, Persebaya yang dinaungi PT Persebaya Indonesia dan diakui mayoritas Bonek mendadak dihapuskan dari keanggotaan PSSI. PSSI kemudian mengakui klub lain yang dibentuk dari Persikubar Kutai Barat dengan nama Persebaya. Klub dengan nama kembar ini pertama kali terjadi di Indonesia dan industri sepak bola modern dunia.
Bonek menunjukkan perlawanan dengan mengosongkan stadion saat Persebaya versi PSSI ini bertanding. Mereka lebih memilih timbul dan tenggelam bersama Persebaya versi PT Persebaya Indonesia.
Aksi massa dan aksi mogok ke stadion yang dikombinasikan dengan perjuangan di ruang pengadilan membuat nama Persebaya kembali ke pemilik sahnya, dan klub yang lain beberapa kali berubah nama hingga terakhir bernama Bhayangkara Presisi Indonesia.
Rivalitas dengan latar belakang historis perebutan identitas ini sebenarnya lebih kuat daripada rivalitas karena geografis dan sosiologis seperti dengan Arema. Rivalitas dengan Arema, Persib, atau Persija tak pernah mengganggu eksistensi Persebaya. Apapun hasil pertandingan, Persebaya tetap ada dan utuh. Persebaya, Arema, Persib, dan Persija berdiri dalam posisi koeksistensi, Saling melengkapi.
Ini berbeda Bhayangkara yang dalam proses awal terbentuknya sempat memakai identitas Persebaya. Jika pada saat itu gugatan PT Persebaya Indonesia atas hak nama dan identitas klub ditolak pengadilan, atau pemerimtah melalui Menteri Pemuda Olahraga Imam Nachrawi gagal memaksa PSSI untuk mengembalikan hak hidup Persebaya, maka hari ini tak akan sama.
Dalam konteks sejarah inilah, kemenangan Persebaya atas Bhayangkara layak dirayakan. Bahkan pertemuan Persebaya dan Bhayangkara kemarin sudah memenuhi syarat rivalitas yang sengit, menyusul keluarnya martu merah untuk kapten Persebaya Reva Adi dan Sani Rizki Fauzi dari saku wasit Tommi Manggopa. Pelatih Persebaya Paul Munster juga diganjar kartu kuning karena memprotes wasit.
Kemenangan ini seharusnya juga membalik arah angin dan memberikan kesempatan Persebaya untuk bangkit. Tentu saja tidak perlu muluk-muluk bermimpi menembus papan atas. Cukup capai 40 angka, sebuah angka minimal agar lolos dari degradasi. Dengan 30 angka yang dikantungi sekarang, cukup tambahan empat kemenangan lagi. Tugas Paul Munster tentu saja menjaga mentalitas monster yang mulai tumbuh pada pemain-pemain Persebaya. [wir]






