Tuban (beritajatim.com) – Di bulan Ramadhan berburu kuliner untuk menu berbuka puasa merupakan hal lumrah, terlebih berburu minuman yang segar, khususnya di Kabupaten Tuban beberapa masyarakat mempunyai kebiasaan berburu minuman tradisional khas Tuban yaitu legen.
Minuman legen ini merupakan minuman khas Tuban yang didapat dari hasil sadapan getah pohon siwalan yang banyak tumbuh di perbukitan kapur Tuban.
Legen sendiri banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Tuban antara lain di Kecamatan Palang, Kecamatan Tuban, Kecamatan Kerek, Kecamatan Semanding, Kecamatan Plumpang, Kecamatan Widang, Kecamatan Merakurak, Kecamatan Bancar dan Kecamatan Jatirogo.
Hampir menyeluruh di desa yang ada di Kabupaten Tuban ditumbuhi pohon siwalan yang mana getah dari pohon siwalan menghasilkan air yang disebut legen.
Salah satunya di Desa Kasiman, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban banyak petani legen dari mulai pagi sudah melakukan proses sadapan getah pohon siwalan, kemudian setiap tetes air dari hasil sadapan tadi ditampung di wadah khusus yang nantinya diambil pada sore hari sekitar pukul 15.00 Wib.
https://beritajatim.com/gaya-hidup/bubur-suro-khas-masjid-agung-tuban-hanya-ada-di-bulan-ramadhan/
Sebelum pukul 15.00 Wib para pelanggan sudah menunggu untuk membeli minuman khas Tuban ini. Salah satunya Qoyim (30) asal Merakurak Tuban mengatakan selama bulan Ramadhan sekali dua kali berburu minuman legen.
“Sambil ngabuburit juga sama teman-teman, ya bisa dibilang sering lah,” ucap Qoyim.
Qoyim juga menambahkan, membeli legen langsung dari petani yang panen di hari itu memiliki rasa yang enak dan kualitas yang bagus dibandingkan membeli di pinggir jalan.
Memang selama bulan Ramadhan ini berkah bagi petani legen maupun penjual legen, sebab menjelang buka puasa legen banyak dijajakan di pinggir jalan, selain itu juga menjadi oleh – oleh khas Tuban. Sehingga, untuk menjumpai minuman tradisional ini sangatlah mudah.
Biasanya sebelum bulan Ramadhan para petani legen juga memproduksi toak, namun untuk bulan Ramadhan legen banyak diminati oleh masyarakat, sehingga para penjual toak juga beralih menjual minuman legen.
Perbedaan legen dan toak yaitu, legen berwarna putih sedangkan toak sedikit putih keruh agak kecoklatan, untuk proses awal minuman legen difermentasi menjadi toak dan salah satu toak ini juga menjadi ciri khas Kabupaten Tuban, konon katanya ada cerita masyarakat jaman dahulu pada masa penjajahan para tentara belanda diberikan minuman toak oleh masyarakat Tuban, namun karena meminumnya dalam jangka yang berlebihan sehingga membuat peminumnya menjadi mabuk dan tentara bisa dikalahkan.
Sementara itu, salah satu petani legen Kalem menjelaskan, proses penyadapan dimulai pagi hari dan dilakukan selama satu hari satu malam, baru kemudian bisa dipanen pada saat sore hari atau menjelang buka puasa.
“Saat panen biasanya bisa sampai 15 botol besar dari total 8 pohon siwalan yang saya miliki,” tutur Kalem.
https://beritajatim.com/gaya-hidup/sego-kalongan-babat-lamongan-kuliner-legendaris-sejak-1970/
Menurutnya, cuaca juga mempengaruhi dalam proses penyadapan, berhari – hari Tuban selalu diguyur hujan, tentu penyadapan air legen tercampur air hujan sehingga tak dapat digunakan.
Sepintas saat panen warna legen dan toak memang sulit dibedakan, sebab legen yang baru dipanen berwarna putih agak keruh, jika dibandingkan dengan yang kita tahu di pinggir jalan berwarna putih bening. Sebab, legen yang berwarna keruh tidak ada campuran air maupun pemanis buatan.
“Legen itu ada dua, ada yang legen biasa dan ada juga legen kilang namanya, kilang sendiri yaitu legen yang sudah direbus, biasanya kilang sering dijual di pinggir jalan, karena lebih awet dan rasanya lebih manis. Kalau legen biasa gini tidak tahan lama,” ungkap Kalem.
Masih kata Kalem, selama bulan Ramadhan ia kuwalahan melayani para pembeli, bahkan harus pesan jauh – jauh hari agar kebagian. Tak heran banyak pembeli yang menghampiri rumah Kalem untuk membeli minuman khas Tuban ini.
“Bulan puasa ini habis terus, kalau mau beli ya harus pesan dulu biar kebagian,” imbuhnya.
Untuk dapat menikmati minuman legen ini harganya bervariatif mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu saja, serta disarankan untuk meminumnya lebih enak jika dimasukkan kedalam kulkas terlebih dahulu supaya dingin atau ditambah es batu. Bagaimana tertarik mencoba?. [ayu/ted]







