Mojokerto (beritajatim.com) – Peta Trowulan karya Kapten Johannes Wardenaar pada 1815 disebut sebagai peta kepurbakalaan pertama yang dibuat khusus untuk mendokumentasikan situs-situs Majapahit. Menurut Arkeolog Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho, peta inilah yang memicu lahirnya survei-survei arkeologis lanjutan di kawasan Trowulan.
“Ini dokumen rekam situasi pertama tentang Trowulan. Setelah peta Wardenaar terbit, bermunculan peta-peta lain dengan jangkauan penelitian yang lebih luas karena peta karya Wardenaar hanya reruntuhan di wilayah Trowulan saja, seperti Candi Brahu, Bajang Ratu, Komplek Kedaton dan Kolam Segaran,” ungkapnya, Selasa (25/11/2025).
Ia menyebut, versi asli peta tersebut diserahkan Wardenaar kepada Thomas Stamford Raffles yang merupakan Gubernur Jawa yang bertugas tahun 1811-1816. Peta tersebut lalu diterbitkan dalam buku The History of Java. Sementara salinannya diberikan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang kini menjadi Museum Nasional.
Ketua lembaga itu pada masa penerbitan ulang dokumen adalah Rogier Diederik Marius Verbeek, seorang geolog dan naturalis Belanda yang berjasa menjadikan catatan Wardenaar dikenal lebih luas. Namun saat, peta salinan tersebut sudah tidak berada di Museum Nasional lagi.
“Di Batavia sekarang petanya sudah tidak ada, karena dibawa ke luar negeri. Namun secara akademis, signifikansinya lebih ke sejarah pendataan, bukan sebagai objek yang wajib dimiliki negara seperti halnya artefak penting semacam arca Ken Dedes. Nilai penting peta itu bukan terletak pada fisik dokumennya,” katanya.
Namun pada perannya, peta karya Wardenaar tersebut sebagai tonggak awal studi ilmiah tentang Majapahit. Wicak (sapaan akrab, red) menyebut pasca Wardenaar 1815, ada peta J.F.G. Brumund (1850-an), peta J. Knebel – Oudheidkundig Verslag (1907–1910), Peta Pusat Penelitian Arkeologi – Stutterheim (1920–1930-an), peta Pasca-Kemerdekaan (1970–2000-an) – Arkeologi Indonesia dan Peta Modern (2000–Sekarang) – LIDAR, Drone, dan SIG. [tin/aje]






