Mojokerto (beritajatim.com) – Pembuatan peta reruntuhan Trowulan pada 1815 bermula dari langkah aktif Letnan Gubernur Jawa, Thomas Stamford Raffles. Ia menindaklanjuti laporan tentang keberadaan reruntuhan purbakala di Trowulan dengan memerintahkan Kapten Johannes Willem Bartholomeus Wardenaar untuk melakukan pendataan langsung ke lapangan.
Raffles ingin memastikan seluruh sisa peninggalan Majapahit terdokumentasi secara lengkap sebelum hilang atau rusak.
“Raffles mendapat laporan adanya runtuhan-runtuhan bangunan kuno di Trowulan. Dari situ ia menugaskan Wardenaar untuk melakukan survei menyeluruh dan menggambarkan apa saja yang tersisa dari bekas ibu kota Majapahit,” ungkap Arkeolog Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho, Senin (24/11/2025).
Penugasan resmi kepada Wardenaar tercatat dilakukan pada 22 Agustus 1815. Ia dipilih karena memiliki kemampuan survei memadai, merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut Semarang (1806), fasih berbahasa Jawa, dan mudah berbaur dengan masyarakat lokal karena ibunya adalah perempuan Jawa. Pada masa itu, Trowulan masih berupa kawasan hutan jati dan semak belukar lebat, jauh dari kondisi yang kemudian dikenal sebagai situs arkeologi terbuka.
Di tengah kondisi lapangan yang belum tersentuh penelitian modern, Wardenaar menyusun salah satu pendataan kepurbakalaan paling awal di Indonesia. Ia merekam sisa-sisa Majapahit dalam bentuk peta, legenda, dan ilustrasi cat air. Karya itu bukan sekadar lukisan, melainkan pemetaan sistematis wilayah bekas ibu kota Majapahit—suatu pekerjaan luar biasa pada masanya.
“Yang disebut asli ada dua, yang asli diserahkan ke Raffles, sementara salinan dan tiga gambar Wardenaar diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap (perkumpulan ilmiah yang kini menjadi Museum Nasional). Namun lanjutnya, salinan peta tersebut saat ini sudah tidak ada di Museum Nasional di Jakarta,” katanya.
Versi asli peta kini berada di Inggris sebagai bagian dari Koleksi Drake di British Museum. Meski tidak tersimpan di Indonesia, Wicak menilai kepemilikan fisik bukanlah persoalan utama.
Nilai penting peta tersebut terletak pada rekaman situasinya yang menjadi tonggak awal studi ilmiah mengenai Majapahit, bukan sebagai artefak yang harus dimiliki negara.
“Di Batavia (Jakarta) sekarang petanya sudah tidak ada, karena dibawa ke luar negeri. Namun secara akademis, signifikansinya lebih ke sejarah pendataan, bukan sebagai objek yang wajib dimiliki negara seperti halnya artefak penting semacam arca Ken Dedes. Nilai penting peta itu bukan terletak pada fisik dokumennya, tetapi pada perannya sebagai tonggak awal studi ilmiah tentang Majapahit,” tegasnya. [tin/beq]






