Bondowoso (beritajatim.com) – Angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Bondowoso masih tinggi tahun ini. Bahkan masuk ketiga tertinggi se Jawa Timur.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Tri Wahyu Liswati, Rabu (30/10/2024).
Ia menyampaikannya dalam sosialisasi penekanan stunting dan AKI-AKB yang digelar di pendopo Bupati Bondowoso.
Berdasarkan data, AKI di Kabupaten Bondowoso per Juni tahun 2024 sebanyak 15 kasus. Sementara tahun lalu 10 kasus.
“Bondowoso masih berada di peringat ketiga untuk kasus angka kematian ibu se Jawa Timur,” ungkapnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kematian ibu. Salah satunya karena kekurangan energi kronis (KEK).
“Tinggi badan dan lingkar lengan juga mempengaruhi proses kelahiran,” sebutnya.
Tri Wahyu menekankan kepada para ibu tentang pentingnya persiapan sebelum kehamilan dan kelahiran.
Selain tingginya AKI, Tri Wahyu juga menyinggung perihal stunting di Kabupaten Bondowoso yang turun signifikan.
“Salah satunya (dikarenakan) pencegahan perkawinan anak,” kata dia.
Ia mengapresiasi kecilnya angka stunting di Bondowoso (17 persen). Bahkan dapat melampaui rendahnya rata-rata stuning di Jawa Timur (17,7 persen).
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso, Anisatul Hamidah menanggapi
Pihaknya berjanji akan meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk terus menekan angka stunting di Bondowoso.
“Termasuk menekan angka kematian ibu. Bersama dengan Dinas Kesehatan, terus bersama OPD-OPD untuk menangani ini,” tegas Anis. (awi/ian)






